Sebelum imersi, saya sempat khawatir kalau-kalau nantinya tidak mendapat pekerjaan. Di tengah keadaan yang serba susah, orang tentunya akan mengalami kesulitan dalam mencari dan mendapat pekerjaan. Ditambah lagi, batas waktu imersi yang hanya satu minggu dan imersi ini adalah yang pertama kali.
Kekhawatiran ini akhirnya mulai meredup ketika saya berpasangan dengan Fr. Gusti yang ternyata sudah mendapat pekerjaan. Kebetulan dia memiliki kenalan, seorang tukang parkir di Pasar Besar yang menawarkannya pekerjaan, yakni membantu para pekerja sampah di sana. Saya pun menerima pekerjaan tersebut. Walau saya sadar pekerjaan itu cukup berat, namun saya merasa ini menjadi kesempatan bagi saya untuk mengalami dengan sungguh bekerja di tempat yang tidak mengenakkan.
Perjalanan saya dan Fr. Gusti dalam mencari dan menemukan pekerjaan ternyata berlangsung alot. Ketika kami mau memasuki hari kerja, ternyata kami tidak langsung bekerja. Kami diminta untuk melapor terlebih dahulu kepada Dinas Kebersihan Pasar Besar. Kami berdua akhirnya menuruti permintaan tersebut. Namun semua tidak berjalan dengan mulus. Kami juga diminta untuk melapor ke Kepala Dinas Kebersihan Kota Madya untuk meminta rekomendasi dari sana. Karena keinginan yang besar untuk bekerja, kami pun mengikuti prosedur tersebut. Kami berangkat dan melapor ke kantor wali kota. Hanya sayang sekali, setelah melalui proses yang panjang apa yang kami perjuangan tersebut berakhir dengan penolakan. Kami tidak memperoleh rekomendasi yang menjadi syarat untuk bekerja di dinas kebersihan Pasar Besar.
Pengalaman ditolak tidak membuat kami putus asa. Saya dan Fr Gusti akhirnya memutuskan untuk menemui Bu Sarsudi di Tanjug Putra Yudha II. Ketika masih di Seminarium Internum, Fr. Gusti bersama beberapa frater pernah meminta bantuannya untuk mencari lowongan pekerjaan. Kami mendatanginya dan menanyakan informasi mengenai lowongan pekerjaan. Kami ditawarkan untuk bekerja di “HR“ Jaya, yakni usaha pengisian dan pemasaran air keras. Setelah bertemu dengan Pak Suherman, pemilik usaha tersebut, kami akhirnya diterima untuk bekerja di sana.
Syukur atas Pengalaman Imersi
Pengalaman imersi ini membuat saya semakin sadar akan keluhuran panggilan yang telah Tuhan anugerahkan. Imersi menjadi kesempatan bagi saya untuk menggali lebih jauh panggilan sebagai seorang vinsesian. Saya bukan hanya sekedar diajak untuk merasakan bagaimana hidup orang-orang di luar, tetapi mau menggali nilai-nilai hidup yang berguna bagi perjalan panggilan saya nanti. Lewat imersi, saya perlahan-lahan mulai diajak untuk memahami apa yang menjadi persoalan dan keresahan yang dihadapi oleh orang yang bekerja. Dan saya mulai merasakan tingginya nilai suatu pekerjaan bagi para pekerja. Suatu pekerjaan menjadi tulang punggung bagi kelangsungan hidup para pekerjaan. Dari pekerjaan tersebut, mereka membiayai berbagai kebutuhan keluarga mereka. Sehingga mereka akan berusaha semaksimal mungkin untuk mempertahankan pekerjaan tersebut. Dan hasil pekerjaan itu akan mereka atur dan gunakan dengan sebaik-baiknya.
Hidup di seminari tentunya sedikit berbeda dengan orang-orang yang bekerja. Keresahan soal kebutuhan hidup seperti makan, pakaian dan lain-lainnya tentu tidak dialami oleh para frater. Para frater dapat makan makanan yang enak tanpa harus bekerja keras. Sehingga saya patut bersyukur karena pengalaman imersi membantu saya untuk mencicipi sedikit pengalaman orang-orang yang bekerja. Paling tidak selama imersi saya mulai mengatur penggunaan yang uang untuk makan. Bila saya ingin makan enak, saya harus memikirkan persediaan uang saya untuk makan hari-hari berikutnya. Dan saya bersyukur dapat merasakan bagaimana seluruh hari saya hanya dihabiskan di tempat kerja.
Persembahan Seorang Janda Miskin
Saya merasa bahagia karena pada kesempatan imersi ini, saya boleh berjumpa dengan seorang janda tua. Ia dikenal dengan nama Bu Bambang. Ia adalah seorang kristiani yang hidup sebatang kara dalam sebuah rumah yang ukurannya tidak lebih dari luas dapur seminari Langsep. Kebetulan tempat saya kerja berada di belakang rumah Bu Bambang. Sehingga hari-hari imersi yang banyak dihabiskan di tempat kerja tentunya lebih banyak juga memberi waktu untuk berjumpa dengan Bu Bambang.
Perjumpaan dengan Bu Bambang begitu istimewa, karena perjumpaan tersebut menyadarkan saya akan panggilan sebagai seorang utusan Tuhan, yakni untuk mencintai semua orang. Mencintai sesama merupakan ungkapan cinta kita kepada Tuhan sendiri. Bu Bambang mekipun berada dalam kekurangan, ia tetap memberikan yang terbaik dari dirinya. Ia selalu memasakan makanan bagi kami dan juga pekerja lainnya.Ia tidak pernah mengeluh, bahkan merasa bahagia bila dapat memberikan yang terbaik dari dirinya bagi orang lain. Ini merupakan ungkapan cinta Bu Bambang kepada Tuhan sendiri, yakni dengan mempersembahkan apa yang terbaik dari dirinya. Ia melayani dengan tulus hati tanpa menuntut balas.
Saya teringat dengan kisah seorang janda miskin yang dibenarkan oleh Jesus karena mempersembahkan dengan tulus hati apa yang ada padanya meskipun sedikit (lih. Mrk 12: 42-44). Sebanyak apapun persembahan kita kepada Tuhan tentunya tidak ada bandingnya dengan belaskasih yang telah Tuhan berikan kepada kita. Sehingga apa yang dapat berikan kepada Tuhan tentunya bukan perkara ukuran atau jumlah besar kecilnya, tetapi soal ketulusan hati kita memberi. Sungguhkah persembahan tersebut sudah mengungkapkan persembahan seluruh hidup kita kepada Tuhan.
Getaran Kebaikan
Segala kebaikan yang telah dilakukan pasti akan membuahkan juga sesuatu yang baik. Tidak dapat dipungkiri bahwa dalam melakukan kebaikan berbagai tantangan akan dihadapi. Namun kebiakan bagaikan suara halus yang bergetar dan mengusik hati setiap orang yang merasakannya. Getaran kebaikan tersebut menarik dan memikat hati setiap orang. Kiranya inilah yang patut saya katakan untuk mengukapkan pengalaman perjumpaan dengan Bu Bambang.
Ketika saya dan Fr. Gusti bekerja, Bu Bambang begitu perhatian dan bahkan memperlakukan kami seperti anaknya sendiri. Saya sendiri awalnya merasa agak sungkan diperlakukan begitu baik, sehingga kerapkali saya mengingatkannya untuk tidak terlalu merepotkan diri. Namun ketika saya melihat kegembiraan dan ketulusan hatinya dalam melakukan semuanya itu, saya perlahan-lahan mulai mengerti bahwa kebaikan itu semua sungguh mengalir dari dalam dan merupakan nilai hidup yang sudah menjadi bagian dirinya. Hal inilah yang selalu mengusik diri saya untuk lebih jauh melihat siapakah diri saya selama ini. Sugguhkah kebaikan-kebaikan yang saya lakukan selama ini mengalirkan dari dalam diri saya dan sudah menjadi bagian dari hidup yang selalu diperjuangkan. Seperti Bu Bambang meskipun dalam kekurangan tetap memberikan yang terbaik kepada orang lain. Ini menunjukkan bahwa kebaikan hendaknya selalu diperjuangkan kapan saja dan dimana saja.
Sehari sebelum waktu kerja kami selesai, saya sempat terkejut dan kaget ketika Fr. Gusti mangungkapkan bahwa Bu Bambang ternyata memiliki utang. Fr. Gusti awalnya juga tidak mengira kalau Bu Bambang mempunyai utang. Dan Bu Bambang tidak pernah mengungkapkan kesulitan dan beban utang yang ia tanggung. Hal ini diketahui Fr. Gusti ketika di sela waktu luang ia menemui Bu Bambang dan bercengkerama bersamanya. Ketika asyik ngobrol tiba-tiba ada seseorang yang meminta tagihan pinjaman. Kemudian Fr Gusti menceritakan pengalamanya itu kepada saya. Saya sempat bingung harus berbuat apa ketika bertemu dengan Bu Bambang. Apakah saya pura-pura tidak tahu masalah itu dan diam saja. Saya tentunya merasa sangat tidak enak ketika Bu Bambang memasakan kami makanan yang enak, semantara ia sendiri harus bekerja keras untuk melunasi utangnya. Akhrinya saya dan Fr Gusti memutuskan untuk memberikan semua uang lelah kami kepada Bu Bambang. Kami meminta Pak Suherman, bos kami untuk memberikannya kepadanya.
Saya pribadi melihat bahwa perbuat baik yang dilakukan Bu Bambang seperti getaran yang menggetarkan hati saya untuk melakukan kebaikan juga. Tentunya kebaikan ini dibedakan dengan balas budi. Balas budi mengibaratkan kebaikan itu akan berhenti ketika utang budi sudah dibalas. Getaran kebaikan membangkitkan gelora dari dalam hati setiap orang yang mengalaminya untuk selalu bergerak dan bertindak. Sehingga di sini saya dengan penuh keyakinan bahwa tidak ada perbuatan baik yang sia-sia. Seperti menyemai benih, kebaikan akan tumbuh dan menghasilkan buah berlimpah. Jadi janganlah jemu-jemu berbuat baik, karena pasti akan berbuah limpah dalam kehidupan (lih. Galatia 6: 9).
Selasa, 19 Januari 2010
Dies Domini (sebuah ringkasan)
1. Pengantar
Sejak zaman Para Rasul hari Minggu sudah diindahkan secara khas karena berhubungan erat dengan intipati misteri Kristiani. Hari Minggu mengungkapkan seluruh misteri iman Kristiani, yakni misteri kebangkitan Kristus. Sehingga hari minggu juga disebut hari kebangkitan Kristus. Dengan demikian pada hari minggu umat krisitani merayakan iman mereka yakni merayakan kemenangan Kristus atas dosa seluruh umat manusia.
Seiring perkembangan zaman dan situasi masyarakat modern, pengertian dan nilai Hari Minggu semakin kabur dan berubah. Berbagai tantangan dunia modern terkadang melemahkan nilai hari Tuhan dan bahkan kehilangan maknanya. Salah satu tantangan tersebut seperti gejala sosial dalam kebanyakan masyarakat kota yang menganggap hari Minggu semata-mata sebagai “akhir pekan” yang seluruh waktunya hanya untuk beristirahat dan berlibur saja. Dan situasi yang dialami Gereja dewasa ini menunjukkan kemerosotan persentasi kehadiran umat dalam liturgi hari Minggu. Hal ini juga dapat menjadi indikasi bahwa nilai dan makna hari Minggu sebagai hari Tuhan semakin kabur. Dengan kata lain, kesadaran umat bahwa Ekaristi adalah pusat, yang mengandaikan kesadaran akan kewajiban bersyukur dan berdoa di hadapan Tuhan bersama saudara-saudara dalam persekutuan jemaat Gereja, semakin merosot.
Menyikapi persoalan tersebut, dalam surat apostolik tentang “Dies Domini” yang ditujukan kepada para uskup, imam dan umat Katolik, Paus Yohanes Paulus II mengingatkan sekaligus mengajak seluruh anggota Gereja Katolik untuk menemukan kembali kesucian hari Minggu sebagai hari Tuhan. Seluruh umat diajak untuk menggali ulang dasar-dasar ajaran yang mendalam tentang hari Minggu. Sehingga seluruh umat semakin merasa bahwa hari Tuhan merupakan suatu kebutuhan dan bagian dari hidup beriman. Umat beriman tidak lagi merasa sia-sia bila menyisihkan satu hari dalam seminggu untuk Tuhan, sebab hari itu memang diperuntukkan bagi kemanusiaan kita. Nilai-nilai hari Minggu sungguh ada, hidup, dan semakin jelas dalam hidup umat beriman. Umat beriman juga diajak untuk semakin menyemarakkan hari Minggu sebagai hari Tuhan dalam kehidupan mereka.
2. Hari Tuhan: merayakan karya sang Pencipta
2.1. Karya Penciptaan Allah: Manusia dan Dunia
Hari minggu terutama Paskah disinari oleh kemuliaan Kristus yang bangkit. Ini lah perayaan “penciptaan baru”. Rencana Allah dalam penciptaan dunia sempurna dalam misteri jati diri Yesus, Sang Sabda yang menjadi manusia. Dialah Putera Allah yang menjadi awal dan akhir alam semesta (bdk.Yoh 1:3; Kol 1:16). Sehingga boleh dikatakan bahwa Putera juga hadir secara aktif dalam penciptaan dan karya Allah diwahyukan sepenuhnya dalam misteri Paskah Kristus. Kristus yang Sulung bangkit dari antara orang mati membentuk penciptaan baru masuk dalam kemuliaanNya dan supaya Allah menjadi semua dalam segalanya (bdk.1 Kor 15:24,28).
Allah menciptakan dunia baik adanya. Ia memancarkan cahaya positif atas setiap unsur alam semesta. Terlebih manusia yang diciptakan menurut kesamaan citra Allah. Citra itu tampak dalam anugerah kebebasan yang menjadikan manusia sebagai makhluk yang agung, supaya menaklukkan bumi beserta segala sesuatu yang terdapat padanya. Hanya saja kebebasan itu disalahgunakan oleh manusia dengan tindakan dosa. Jatuhnya manusia dalam dosa akhirnya mendatangkan dalam diri mereka kegelapan dosa serta maut.
Allah sebenarnya juga memancarkan cahaya atas tugas dan kewajiban manusia menyangkut kosmos. Melalui “karya” Allah dalam keindahan dunia yang membawah kekaguman pada Sang Pencipta, sebenarnya lebih jauh mau mengajak manusia bukan hanya menjadi penghuni kosmos saja, tetapi menjadi rekan-kerja Allah dalam membangun dunia.
2.2. “Shabbat”: Istirahat Sang Pencipta yang Menggembirakan
Kitab Kejadian menggambarkan “karya” Allah sebagai teladan bagi manusia. Dikatakan bahwa Allah menyelesaikan segala pekerjaanNya dan beristirahat pada hari ketujuh (bdk. Kej 2:2). “Istirahat” Allah memiliki makna yang sangat mendalam. Tidak benar bila ditafsirkan sebagai ketidak-aktifan Ilahi. Sebab tindakan kreatif Allah di dunia pada hakekatnya tidak pernah berhenti, seperti yang dinyatakan oleh Yesus dalam perintah Taurat (lih. Yoh 5:17). Istirahat Ilahi pada hari ketujuh tidak berarti Allah tidak aktif, tetapi menekankan kepenuhan yang telah diselesaikan. Di sini ada suatu pandangan “kontemplatif” yang menunjukkan kegembiraan karena keindahan ciptaan, secara istimewa manusia. Dapat disimpulkan juga ada suatu hubungan yang erat yang dijalin oleh Allah dengan makhluk ciptaanNya.
2.3. Allah Memberkati Hari Ketujuh dan Menguduskannya
Hari Minggu merupakan hari istirahat karena diberkati oleh Allah dan dikuduskan olehNya. Hari itu disendirikan dari hari-hari lainnya supaya dikhususkan menjadi hari Tuhan, hari yang sungguh istimewa. Bukan berarti bahwa Allah hanya memiliki satu hari saja, Allah memiliki segala hari manusia. Sebab waktu dan ruang termasuk milikNya. Oleh karena itu, setiap manusia dari waktu ke waktu hendaknya menjadi pujian dan syukur kepada Sang Pencipta. Ungkapan terima kasih itu melibatkan dimensi personal. Artinya bahwa ada hubungan erat antara ciptaan dengan Sang Pencipta. Sehingga “hari Tuhan” merupakan hari hubungan tersebut secara istimewa dimana umat manusia memanjatkan kidung pujian kepada Allah dan menjadi suara seluruh alam semesta.
2.4. Menguduskan dengan “Mengenangkan”
Allah memerintahkan untuk menguduskan hari Sabat (lih. Kel 20:8). Karya penciptaan selama enam hari dan berhenti pada hari ketujuh menjadi dasar bagi Tuhan memberkati hari Sabat dan menguduskannya. Ini menjadi seruan bagi umat manusia untuk mengenangkan dan membangkitkan peringatan akan karya Allah yang agung dan mendasar, yakni karya penciptaan. Sehingga umat manusia dipanggil untuk beristirahat dalam Allah. Supaya umat sendiri dapat mengenangkan karya penciptaan dan lebih dari itu karya pembebasan Allah terhadap manusia (bdk. Ul 5:15). Di sini tampak bahwa Hari Tuhan mencakup dua pengertian yakni penciptaan dan penyelamatan.
2.5. Dari Hari Sabat Beralih ke Hari Minggu
Tema penciptaan dan penyelamatan Allah memuncak dalam Misteri Paskah Kristus. Misteri ini mengungkapkan pewahyuan penuh misteri asal mula dunia, menjadi puncak keselamatan dan antisipasi pemenuhan dunia pada akhir zaman. Sehingga ada pendasaran yang tepat jika Gereja awali menjadikan hari pertama sesudah Sabat merupakan hari Tuhan (Dies Domini), hari yang dikuduskan, dan bukan hari sabat yang diagung-agungkan orang Yahudi. Sebab pada hari itu Tuhan bangkit. Dalam misteri Paskah umat manusia beserta alam semesta bersukaria karena merasakan karya penyelamatan Allah. Umat manusia memasuki kebebasan anak-anak Allah dan kemuliaan hidup ilahi bersama Kristus yang mulia.
2. Hari Tuhan: Hari Tuhan yang Bangkit dan Kurnia Roh Kudus
2.1. Hari Tuhan yang Bangkit
Hari Minggu dihormati sebagai hari Kebangkitan Tuhan. Oleh karena itu, Kebangkitan mulia Yesus Kristus tidak hanya dirayakan pada Hari Raya Paskah saja, tetapi juga pada setiap kali mulai minggu. Meskipun dalam tradisi, Hari Tuhan berakar dalam karya penciptaan dan bahkan dalam misteri “istirahat” Allah, namun Kebangkitan Kristuslah yang patut mendapat perhatian lebih untuk mengerti sepenuhnya Hari Tuhan. Sehingga di sini tampak bahwa peran hari minggu Kristiani, yakni menuntun umat beriman tiap minggu untuk merenungkan dan menghayati peristiwa Paskah yang menjadi sumber sejati bagi keselamatan dunia.
Sejak zaman Para Rasul, “hari pertama sesudah hari Sabat” yakni hari pertama minggu telah dirayakan sebagai hari Kebangkitan Tuhan. Sehingga perayaan pada hari pertama minggu tersebut membentuk irama hidup tersendiri bagi para murid Kristus (bdk. 1 Kor 16:2). Kitab Wahyu membuktikan praktek menyebut hari pertama “Hari Tuhan” (1:10). Hal ini akhirnya menjadi ciri khas yang membedakan umat Kristiani dari dunia di sekitar mereka, terlebih dari orang-orang Yahudi yang membanggakan hari Sabat. Pada abad-abad pertama, ditekankan hari Minggu sebagai hari Kebangkitan Kristus yang mampu mengungkapkan seluruh misteri Kristiani dalam segala kebaruannya. Inilah keunggulan hari Minggu dibandingkan dengan hari Sabat Yahudi.
2.2. Hari Kurnia Roh Kudus
Hari Minggu disebut juga hari cahaya atau juga hari “api” yang mengacu kepada Roh Kudus. Terang Kristus berhubungan erat dengan “api” Roh yang menampakan makna hari Minggu Kristiani. Hal ini tampak jelas ketika Yesus menampakkan Diri kepada para Rasul, Ia mengembusi mereka Roh Kusus untuk melepas dosa manusia (bdk. Yoh 20:22-23). Pencurahan Roh ialah anugerah agung Tuhan yang Bangkit kepada para murid pada hari Minggu Paskah dan juga pada Pentakosta. Peristiwa Pentakosta bukan hanya peritiwa berdirinya Gereja, tetapi terlebih memberi hidup kepada Gereja. Peristiwa Pentakosta berkaitan erat dengan Misteri Paskah dan menemukan arti mendalam tiap hari Minggu.
2.3. Hari iman
Berkat kekuatan Roh Kudus, pada hari Minggu penampakan Tuhan yang Bangkit terus diperbaharui bagi para murid Kristus. Umat beriman yang berhimpun dalam pertemuan hari Minggu diajak dan dipanggil untuk semakin percaya kepada Tuhan (bdk. Yoh 20:27). Sehingga boleh dikatakan bahwa hari Minggu adalah hari iman. Hal ini tampak jelas dalam perayaan liturgi Ekaristi yang menampilkan Syahadat Iman di dalamnya. Syahadat ini menyatakan ciri pembaptisan dan Paskah. Mereka yang dibaptis membarui sikap dalam mengikuti Kristus yang diungkapkan dengan pengulangan janji baptis mereka. Dengan mendengarkan sabda dan menerima Tubuh Tuhan, umat kristiani dapat mengalami dan mengakui penuh iman Kristus yang Bangkit dan yang hadir dalam “tanda-tanda kudus”.
2.3. Hari yang diperlukan
Hari Minggu begitu diperlukan oleh umat beriman hingga zaman sekarang. Mengingat bahwa hari Minggu Kristiani merupakan perayaan Hari Tuhan yang begitu kaya akan rahmat, maka sungguh dibutuhkan bagi jati diri Kritiani. Dan juga hari yang hendaknya dikuduskan itu berkaitan erat dengan dasar-dasar iman jemaat sendiri. Sehingga dianjurkan kepada umat beriman untuk menghayati dan mendalami jati diri hari itu dalam segala kedalamannya.
3. Hari Gereja: Jemaat Ekaristi: Jantung Hari Minggu
3.1. Kehadiran Tuhan yang Bangkit
Yesus berpesan kepada para muridNya bahwa Ia akan senantiasa menyertai mereka sampai akhir zaman (bdk. Mat 28:20). Janji Kristus terus berkumandang dalam Gereja sebagai sumber harapan umat beriman. Kehadiran Tuhan diwartakan dan dihayati pada hari Minggu, yakni perayaan kehadiran Tuhan yang Bangkit di tengah jemaat.
Dengan rahmat pembaptisan, jemaat tidak diselamatkan sebagai perorangan, tetapi selaku anggota-anggota Tubuh yang Mistik karena termasuk umat Allah. Di sini tampak kesatuan jemaat dalam Kristus yang ditebus dan dihimpun dari berbagai suku, bahasa dan bangsa, dan juga menunjukkan jati diri Gereja yang adalah satu. Kesatuan itu sungguh tampak bila umat Kristiani berhimpun.
3.2. Jemaat Ekaristi
Sejak zaman Para Rasul, jemaat awali yang dibaptis bertekun dalam pengajaran para Para Rasul dan dalam persekutuan. Dan mereka berhimpun untuk memecahkan roti atau merayakan Ekaristi dan berdoa (bdk. Kis 2:42). Di sini Ekaristi bukan hanya pengungkapan khas kenyataan hidup Gereja, tetapi juga Ekaristi sendiri merupakan santapan dan membentuk Gereja (bdk. 1 Kor 10:17). Dalam Ekaristi diwartakan dan dihayati secara mendalam sakramen Tubuh dan Darah Tuhan, yang merupakan dimensi yang intrinsik pada Ekaristi.
Pada hari Minggu umat Kristiani berkumpul untuk mengenangkan Kebangkitan Tuhan. Kita dapat melihat hubungan Ekaristi yang dirayakan jemaat pada hari Minggu dengan Kebangkitan atau penampakan Tuhan, yakni secara jelas digambarkan dalam peristiwa dua murid dari Emaus. Mereka mengenal Yesus yang telah bangkit ketika Ia mengambil roti, mengucap berkat, lalu memecah-mecahkannya dan memberikannya kepada mereka (lih. Luk 24:30).
Ekaristi adalah penampakan Gereja. Penampakan Gereja yang istimewa terdapat dalam keikutsertaaan penuh dan aktif seluruh umat Allah dalam perayaan Litugi, terutama Ekaristi. Umat yang berhimpun pada satu altar dipimpin oleh Uskup ataupun imam merayakan Ekaristi. Sehingga Gereja makin berkembang dalam kesatuan seluruh jemaat beriman dan Paus dan membukan diri bagi persekutuan dengan Gereja semesta.
3.3. Hari Gereja
Karena Penampilan Gereja yang istimewa ada pada kehadiran umat yang penuh dan aktif dalam perayaan Liturgi Gereja, maka dapat dikatakan bahwa hari Tuhan (dies Domini) adalah sekaligus hari Gereja (dies Ecclesiae). Sehingga dalam pastoral patut ditekankan aspek khas jemaat perayaan hari Minggu, seperti jiwa persekutuan jemaat dalam paroki yang terus berkembang dalam perayaan Misa Umat pada hari Minggu.
Kesatuan jemaat dalam perayaan Liturgi pada hari Minggu menandai secara mendalam Gereja sebagai umat yang dihimpun “oleh” dan “dalam” kesatuan Bapa, Putera dan Roh Kudus. Sehingga perayaan jemaat hari Minggu menjadi perayaan “sakramentum unitatis” (sakramen kesatuan). Sehingga hidup dan kesatuan jemaat paroki patut dijamin dan dimajukan sepenuhnya dengan pelayanan para imam yang dibutuhkan.
3.4. Hari Harapan
Hari minggu tidak hanya hari iman, tetapi juga hari harapan Kristiani. Partisipasi aktif dalam “perjamuan Tuhan” berarti mengantisipasi pesta zaman akhir “pernikahan Anak Domba” (lih. Why 19:9). Dengan merayakan kenangan akan Kristus, yang bangkit dan naik ke surga, umat beriman menantikan dalam harapan penuh kegembiraan kedatangan Sang Penyelamat, yakni Yesus Kristus.
3.5. Santapan Sabda dan Tubuh Kristus
Dalam perayaan ekaristi Tuhan yang Bangkit hadir dalam sabda dan Roti Hidup yang menjadi santapan rohani bagi jemaat. Santapan sabda berarti Yesus sendiri yang Bangkit hadir dalam sabdaNya. Sehingga umat beriman diajak untuk memelihara rasa lapar untuk mendengar Sabda Tuhan (lih. Ams 8:11). Dan lebih dari itu, umat beriman harus membangkitkan citarasa baru akan tanggung jawab terhadap sabda yang diwartakan. Oleh sebab itu, imam, para pelayan, dan umat beriman diharapkan untuk menyiapkan hati dengan merenungkan sebelumnya dan dengan semangat doa mau belajar pengetahuan atau penafsiran yang benar tentang Kitab Suci.
Sedangkan santapan Roti Hidup merupakan Kristus sendiri yang mengurbankan DiriNya kepada Bapa bagi kita lewat pengorbananNya di kayu salib. Kristus hadir secara nyata dalam rupa roti dan anggur yang merupakan Tubuh dan DarahNya. Ia hadir melalui kenangan Sengsara dan KebangkitanNya. Bagi umat beriman, Roti Hidup menjadi jaminan untuk kemuliaan yang akan datang.
3.6. Perjamuan paskah dan himpunan persaudaraan
Dalam Ekaristi, Kristus sendiri menjadi santapan. Dengan demikian partisipasi umat dalam perjamuan Tuhan tentu merupakan persekutuan dengan Kristus sendiri dan juga dengan saudara-saudara yang lain. Dengan perayaan Ekaristi, umat menyantap satu Tubuh, yakni Kristus, Roti Kehidupan. Dan perjamuan Komuni kudus ini sekaligus menunjukkan persekutuan umat beriman dalam Kristus. Sehingga umat beriman patut menyadari bahwa hari Minggu hendaknya menjadi pengalaman persaudaraan karena seluruh umat beriman disatukan oleh satu Tuhan dan menerima Roti Hidup yang sama, yakni Yesus Kristus.
3.7. Dari misa ke misi
Dengan menerima santapan rohani Roti Hidup, umat beriman sebenarnya menyiapkan diri untuk menunaikan tugas-tugas harian mereka. Dengan kekuatan Tuhan yang Bangkit beserta Rohnya, umat beriman dipanggil untuk mewartakan Injil dan memberi kesaksian dalam hidup mereka kepada sesama. Sehingga perayaan Ekaristi umat beriman tidak berhenti di Gereja saja tetapi memiliki diutus untuk berbagi kegembiraan perjumpaan dengan Tuhan bersama saudara-saudara mereka (bdk. Luk 24:33-35).
3.8. Saat-saat lain dalam hari minggu Kristiani
Hari Tuhan dihayati dengan penuh iman seharusnya bukan karena adanya kewajiban menguduskan hari Minggu, tetapi hendaknya umat beriman dari awal hingga akhir merayakan kenangan penuh syukur dan aktif akan karya penyelamatan Allah. Sehingga Ekaristi harus disiapkan dengan sungguh-sungguh, terutama sikap batin yang dapat dilakukan sebelum dan sesudah Ekaristi untuk menyiapkan atau melengkapi kurnia Ekaristi dalam hati umat beriman. Maka pada saat-saat lain baik sore atau Minggu siang dapat dilakukan perayaan Ibadat Sore bila memungkinkan sehingga damai dan kegembiraan akan Tuhan yang Bangkit sungguh masuk dalam kehidupan umat beriman.
Gereja berupaya membantu umat Kristiani agar dapat menguduskan Hari Tuhan sehingga berkenan pada Allah. Dengan anugerah Roh Kudus Gereja dengan teguh menjaga dan mempertahankan warisan ajaran iman yang benar. Sehingga Gereja tidak pernah kompromi dengan hal-hal yang terkadang meskipun positif untuk tidak merayakan Ekaristi pada hari Minggu. Malahan untuk menguduskan hari Tuhan, dalam tradisi kuno banyak umat melakukan ziarah-ziarah pada hari Minggu.
3.9. Jemaat-jemaat hari Minggu tanpa imam
Gereja memang mewajibkan umatnya untuk menguduskan hari Tuhan terutama dengan mengikuti Ekaristi pada hari Minggu bersama jemaat di paroki. Namun tidak dapat dipungkiri bahwa terkadang di beberapa paroki tidak mempunyai pelayanan imam pada hari Minggu. Kekurangan tenaga imam terkadang menjadi kendala utama. Namun Gereja tetap menganjurkan agar umat tetap berkumpul pada hari Minggu dan mengikuti perayaan liturgi bersama sesuai dengan aturan Gereja meskipun tanpa imam.
3.10. Radio dan Televisi
Gereja menyadari bahwa Ekaristi hari Minggu sungguh membuahkan kekayaan iman bagi umat Kristiani, sehingga diharapkan seluruh umat untuk mengalami hari Minggu sebagai “Hari Tuhan” dan “Hari Gereja”. Sehingga kewajiban hari Minggu mengandaikan partisipasi aktif tiap orang beriman dalam persaudaraan jemaat di satu tempat dimana mereka dapat merayakan Ekaristi dan menerima Komuni Kudus di situ. Namun jika suatu alasan yang serius seperti sakit, cacat, atau yang lain yang sungguh menjadi penghalang untuk ikutserta, maka diharapkan menyatukan diri dengan perayaan ekaristi pada hari Minggu dari jauh. Jika memungkinkan ada sarana radio dan televisi yang kiranya dapat membantu, juga lewat bacaan-bacaan dan doa-doa pada hari yang bersangkutan. Tentunya dalam hal ini pelayan umat atau asistensi akan mendampingi dan mengantarkan Komuni kepada umat tersebut.
4. Hari Manusia: Hari Minggu: Hari Kegembiraan, Istirahat dan Solidaritas
4.1. Hari Kegembiraan
Umat Kristiani merayakan hari minggu, Tuhan yang Bangkit terutama sebagai hari kegembiraan. Sejak awal para rasul Yesus melihat dan menyadari bahwa hari minggu sebagai gema mingguan perjumpaan pertama dengan Tuhan yang telah bangkit. Dan perjumpaan ini selalu ditandai dengan kegembiraan karena boleh melihat Tuhan (bdk. Yoh 20:20). Yesus sendiri mengharapkan para muridNya akan mempunyai “kepenuhan kegembiraanNya” (bdk. Yoh 17:13). Sehingga perayaan Ekaristi yang diungkapkan dengan penuh kegembiraan pada hari minggu merupakan karya Kristus sendiri yang menyalurkan rahmat sukacita kepada Gereja melalui kehadiran roh Kudus. Dan kita ketahui bahwa salah satu buah Roh Kudus adalah kegembiraan.
Kegembiraan Kristiani harus menandai seluruh hidup umat. Kita merayakan hari Tuhan yang Bangkit berarti juga merayakan karya penciptaan Allah dan “penciptaan baru”. Sehingga hari minggu sungguh merupakan hari yang istimewa. Namun kegembiraan kristiani bukan hanya semata perasaan puas yang dangkal, tetapi memiliki dasar yang mendalam dalam aspek hidup beriman. Dengan kata lain, kegembiraan manusiawi hendaknya menemukan landasan yang kokoh dalam kegembiraan Kristus yang dimuliakan. Sehingga hari minggu kristiani merupakan “waktu yang sesungguhnya untuk perayaan” yang dikaruniakan oleh Allah kepada umatNya demi perkembangan manusiawi dan rohani mereka yang sepenuhnya.
4.2. Hari Istirahat
Dalam Kitab Kejadian (bdk. 2:2-3) tampak bahwa istirahat merupakan sesuatu yang “sakral”. Siklus pergantian kerja dan istirahat yang terbentuk dalam kodrat manusiawi merupakan sesuatu yang dikehendaki oleh Allah sendiri. Sebab itu, umat beriman ada kalanya mengundurkan diri dari tugas-tugas manusiawi untuk sejenak merenungkan karya Allah dalam hidupnya. Sehingga hari Minggu menjadi kesempatan yang baik bagi umat beriman untuk membaktikan diri dalam doa bersama. Semua berhimpun sebagi jemaat Ekaristi yang mengungkapkan diri dalam perayaan dan pengudusan hari Tuhan.
4.3. Hari Solidaritas
Hari Minggu juga menjadi kesempatan bagi umat beriman untuk membuka dan membaktikan diri dalam karya amal, cinta kasih dan kerasulan. Kegembiraan hari Minggu karena boleh mengalami sukacita Tuhan yang Bangkit, harus tampak dalam seluruh hidup umat beriman. Sehingga Ekaristi hari Minggu tidak melepaskan umat beriman dari karya cinta kasih mereka, tetapi justru sebaliknya menjadi dorongan bagi mereka untuk berbuat kasih. Dengan demikian dalam seluruh hidup, umat Kristiani dapat menjadi terang dunia dan memuliakan Bapa di hadapan manusia.
5. Hari Minggu: Pesta Primodial: mewahyukan makna Waktu
5.1. Kristus Alfa dan Omega
Tuhan menciptakan dunia berada dalam dimensi waktu. Dan sejarah keselamatan Allah menemukan puncaknya dalam ‘kepenuhan waktu’ yakni penjelmaan Sang Sabda yang hadir dalam dimensi waktu sampai pada tujuannya dalam diri Putera Allah yang mulia pada akhir waktu. Sehingga dalam Yesus Kristus, waktu menjadi dimensi Allah yang bersifat kekal abadi. Hidup Kristus di dunia menjadi pusat waktu dan mencapai puncaknya dalam kebangkitan sebagai ‘kepenuhan waktu’.
5.2. Hari Minggu dalam Tahun Liturgi
Tradisi Gereja kuno telah secara berulang-ulang sekali seminggu merayakan misteri Paskah Kristus. Sehingga akhirnya kebiasaan atau perayaan yang diulang-ulang ini membentuk diri menjadi suatu lingkaran liturgi tahunan.
Konsili Vatikan II mengingatkan bahwa Gereja hendak memaparkan selama kurun waktu setahun seluruh misteri Kristus, dari penjelmaan serta kelahiran hingga kenaikanNya, sampai hari Pentakosta dan sampai penantian Kedatangan Tuhan yang bahagia dan penuh harapan. Umat beriman semakin terbuka akan kekayaan keutamaan serta rahmat yang hadir dengan cara tertentu. Umat dapat mendalami misteri Kristus dan dipenuhi dengan rahmat keselamatan. Umat beriman juga diajak untuk merenungkan misteri Kelahiran Tuhan yang juga menjadi perayaan yang paling meriah. Karena dalam peristiwa tersebut, umat beriman menyelami misteri Inkarnasi dan mengkontemplasikan Sabda Allah.
Dalam perayaan lingkaran tahunan misteri-misteri Kristus, Gereja juga menghormati Santa Maria Bunda Allah. Karena dengan jelas Bunda Maria tidak dapat dipisahkan atau terlibat dalam karya keselamatan Puteranya. Lingkaran tahunan juga disisipkan ke dalamnya kenangan para martir dan orang-orang kudus lainnya. Perayaan pesta orang-orang suci ini berada dalam sentralitas Kristus. Para kudus telah membuktikan kekuatan penebusan yang dijalankan oleh Yesus. Misteri Paskah ada dalam diri para kudus yang telah menderita dan dimuliakan bersama Kristus. Kemuliaan para kudus dan kemuliaan Kristus dibangun dalam penataan Tahun Liturgi itu sendiri, yang diungkapkan secara paling indah dan berdaulat hari Minggu sebagai hari Tuhan.
Hari Minggu terlaksana mengikuti musim-musim Tahun Liturgi. Sehingga seluruh musim tersebut tertata dengan indah dari awal hingga akhir. Di sini hari Minggu mucul sebagai pola alami untuk memahami dan merayakan hari-hari raya Tahun Liturgi tersebut, yang bernilai bagi hidup Kristiani. Sehingga benar bahwa Gereja mewajibkan umat beriman untuk menghadiri misa hari Minggu dan diharapkan umat beriman juga menghadiri Misa pada hari-hari raya penting lainnya, yang dirayakan dalam minggu.
Dalam pasoral perlu diperharikan juga situasi umat setempat berkaitan dengan tradisi-tradisi dan budaya daerah yang terkadang tidak selaras dengan semangat iman Kristiani yang sejati. Hal ini dapat mengganggu perayaan hari-hari Minggu dan hari-hari raya liturgis lainnya. Di sini para imam hendaknya lebih tegas dan bijaksana untuk menentukan nilai-nilai sejati dalam kebudayaan rakyat yang dapat dimasukkan dalam perayaan liturgi.
6. Penutup
Kewajiban menguduskan hari Tuhan lebih dari hanya dipandang sebagai sebuah perintah, tetapi harus dipandang sebagai kebutuhan yang muncul dari kedalaman hidup Kristiani. Karena warisan tradisi sungguh telah membuktikan keagungan dan kekayaan rohani serta patoral hari Minggu. Sehingga dalam penghayatan dan pelaksanaan diharapkan mengerti secara keseluruhan relevansi dan implikasi-implikasinya. Semua ini tentu tidak akan terjadi tanpa penghayatan dan keikutsertaan sepenuhnya dalam hidup jemaat Kristiani. Maka hendaklah umat beriman secara teratur ikut serta dalam perayaan Ekaristi bersama seluruh jemaat Gereja pada hari Minggu.
Di tengah dunia modern sekarang, berbagai tantangan yang muncul dalam upaya menguduskan hari Tuhan. Hal ini membuat umat kristiani terkadang terperosok dalam budaya masyarakat modern yang menggunakan hari minggu sebagai istirahat mingguan atau untuk senang-senang saja dengan berbagai tawaran hiburan duniawi. Dan juga kondisi-kondisi sosial yang semakin ditandai fragmentasi dan pluralisme agama, semua ini menjadi tantangan bagi kesetiaan umat Kristiani dalam menghidupi imannya di tengah dunia. Umat diajak untuk berada dalam persaudaraan dan persatuan teman-teman seiman dengan ikut serta berkumpul pada hari Minggu. Semua ini dapat menjadi bantuan yang sungguh diperlukan untuk mengadapi berbagai tantangan dunia sekarang.
Kesadaran hari minggu adalah hari Tuhan yang Bangkit akan membawa umat Kristiani pada kesaksian hidup dalam masyarakat. Dengan merayakan hari Tuhan sebenarnya mereka merayakan keselamatan mereka itu sendiri dan seluruh umat manusia. Di sini tampakan bahwa hari minggu menjadi jiwa hari-hari lainnya. Dan dengan bantun Roh Kudus yang tiada henti hadir dan menyelurkan kekayaan rahmat-rahmatNya, umat disatukan dengan Tuhan dan seluruh umat beriman. Roh Kudus juga memenuhi umat beriman dengan rahmat cinta kasih dan membaharui hidup mereka. Maka dengan demikian nilai hari Kudus dapat dimengerti dan dihayati semakin mendalam, sehingga pasti akan berimbas dan menghasilkan buah yang kaya dalam hidup jemaat Kristiani dan terlebih mengimbas pada seluruh hidup manusia.
Sejak zaman Para Rasul hari Minggu sudah diindahkan secara khas karena berhubungan erat dengan intipati misteri Kristiani. Hari Minggu mengungkapkan seluruh misteri iman Kristiani, yakni misteri kebangkitan Kristus. Sehingga hari minggu juga disebut hari kebangkitan Kristus. Dengan demikian pada hari minggu umat krisitani merayakan iman mereka yakni merayakan kemenangan Kristus atas dosa seluruh umat manusia.
Seiring perkembangan zaman dan situasi masyarakat modern, pengertian dan nilai Hari Minggu semakin kabur dan berubah. Berbagai tantangan dunia modern terkadang melemahkan nilai hari Tuhan dan bahkan kehilangan maknanya. Salah satu tantangan tersebut seperti gejala sosial dalam kebanyakan masyarakat kota yang menganggap hari Minggu semata-mata sebagai “akhir pekan” yang seluruh waktunya hanya untuk beristirahat dan berlibur saja. Dan situasi yang dialami Gereja dewasa ini menunjukkan kemerosotan persentasi kehadiran umat dalam liturgi hari Minggu. Hal ini juga dapat menjadi indikasi bahwa nilai dan makna hari Minggu sebagai hari Tuhan semakin kabur. Dengan kata lain, kesadaran umat bahwa Ekaristi adalah pusat, yang mengandaikan kesadaran akan kewajiban bersyukur dan berdoa di hadapan Tuhan bersama saudara-saudara dalam persekutuan jemaat Gereja, semakin merosot.
Menyikapi persoalan tersebut, dalam surat apostolik tentang “Dies Domini” yang ditujukan kepada para uskup, imam dan umat Katolik, Paus Yohanes Paulus II mengingatkan sekaligus mengajak seluruh anggota Gereja Katolik untuk menemukan kembali kesucian hari Minggu sebagai hari Tuhan. Seluruh umat diajak untuk menggali ulang dasar-dasar ajaran yang mendalam tentang hari Minggu. Sehingga seluruh umat semakin merasa bahwa hari Tuhan merupakan suatu kebutuhan dan bagian dari hidup beriman. Umat beriman tidak lagi merasa sia-sia bila menyisihkan satu hari dalam seminggu untuk Tuhan, sebab hari itu memang diperuntukkan bagi kemanusiaan kita. Nilai-nilai hari Minggu sungguh ada, hidup, dan semakin jelas dalam hidup umat beriman. Umat beriman juga diajak untuk semakin menyemarakkan hari Minggu sebagai hari Tuhan dalam kehidupan mereka.
2. Hari Tuhan: merayakan karya sang Pencipta
2.1. Karya Penciptaan Allah: Manusia dan Dunia
Hari minggu terutama Paskah disinari oleh kemuliaan Kristus yang bangkit. Ini lah perayaan “penciptaan baru”. Rencana Allah dalam penciptaan dunia sempurna dalam misteri jati diri Yesus, Sang Sabda yang menjadi manusia. Dialah Putera Allah yang menjadi awal dan akhir alam semesta (bdk.Yoh 1:3; Kol 1:16). Sehingga boleh dikatakan bahwa Putera juga hadir secara aktif dalam penciptaan dan karya Allah diwahyukan sepenuhnya dalam misteri Paskah Kristus. Kristus yang Sulung bangkit dari antara orang mati membentuk penciptaan baru masuk dalam kemuliaanNya dan supaya Allah menjadi semua dalam segalanya (bdk.1 Kor 15:24,28).
Allah menciptakan dunia baik adanya. Ia memancarkan cahaya positif atas setiap unsur alam semesta. Terlebih manusia yang diciptakan menurut kesamaan citra Allah. Citra itu tampak dalam anugerah kebebasan yang menjadikan manusia sebagai makhluk yang agung, supaya menaklukkan bumi beserta segala sesuatu yang terdapat padanya. Hanya saja kebebasan itu disalahgunakan oleh manusia dengan tindakan dosa. Jatuhnya manusia dalam dosa akhirnya mendatangkan dalam diri mereka kegelapan dosa serta maut.
Allah sebenarnya juga memancarkan cahaya atas tugas dan kewajiban manusia menyangkut kosmos. Melalui “karya” Allah dalam keindahan dunia yang membawah kekaguman pada Sang Pencipta, sebenarnya lebih jauh mau mengajak manusia bukan hanya menjadi penghuni kosmos saja, tetapi menjadi rekan-kerja Allah dalam membangun dunia.
2.2. “Shabbat”: Istirahat Sang Pencipta yang Menggembirakan
Kitab Kejadian menggambarkan “karya” Allah sebagai teladan bagi manusia. Dikatakan bahwa Allah menyelesaikan segala pekerjaanNya dan beristirahat pada hari ketujuh (bdk. Kej 2:2). “Istirahat” Allah memiliki makna yang sangat mendalam. Tidak benar bila ditafsirkan sebagai ketidak-aktifan Ilahi. Sebab tindakan kreatif Allah di dunia pada hakekatnya tidak pernah berhenti, seperti yang dinyatakan oleh Yesus dalam perintah Taurat (lih. Yoh 5:17). Istirahat Ilahi pada hari ketujuh tidak berarti Allah tidak aktif, tetapi menekankan kepenuhan yang telah diselesaikan. Di sini ada suatu pandangan “kontemplatif” yang menunjukkan kegembiraan karena keindahan ciptaan, secara istimewa manusia. Dapat disimpulkan juga ada suatu hubungan yang erat yang dijalin oleh Allah dengan makhluk ciptaanNya.
2.3. Allah Memberkati Hari Ketujuh dan Menguduskannya
Hari Minggu merupakan hari istirahat karena diberkati oleh Allah dan dikuduskan olehNya. Hari itu disendirikan dari hari-hari lainnya supaya dikhususkan menjadi hari Tuhan, hari yang sungguh istimewa. Bukan berarti bahwa Allah hanya memiliki satu hari saja, Allah memiliki segala hari manusia. Sebab waktu dan ruang termasuk milikNya. Oleh karena itu, setiap manusia dari waktu ke waktu hendaknya menjadi pujian dan syukur kepada Sang Pencipta. Ungkapan terima kasih itu melibatkan dimensi personal. Artinya bahwa ada hubungan erat antara ciptaan dengan Sang Pencipta. Sehingga “hari Tuhan” merupakan hari hubungan tersebut secara istimewa dimana umat manusia memanjatkan kidung pujian kepada Allah dan menjadi suara seluruh alam semesta.
2.4. Menguduskan dengan “Mengenangkan”
Allah memerintahkan untuk menguduskan hari Sabat (lih. Kel 20:8). Karya penciptaan selama enam hari dan berhenti pada hari ketujuh menjadi dasar bagi Tuhan memberkati hari Sabat dan menguduskannya. Ini menjadi seruan bagi umat manusia untuk mengenangkan dan membangkitkan peringatan akan karya Allah yang agung dan mendasar, yakni karya penciptaan. Sehingga umat manusia dipanggil untuk beristirahat dalam Allah. Supaya umat sendiri dapat mengenangkan karya penciptaan dan lebih dari itu karya pembebasan Allah terhadap manusia (bdk. Ul 5:15). Di sini tampak bahwa Hari Tuhan mencakup dua pengertian yakni penciptaan dan penyelamatan.
2.5. Dari Hari Sabat Beralih ke Hari Minggu
Tema penciptaan dan penyelamatan Allah memuncak dalam Misteri Paskah Kristus. Misteri ini mengungkapkan pewahyuan penuh misteri asal mula dunia, menjadi puncak keselamatan dan antisipasi pemenuhan dunia pada akhir zaman. Sehingga ada pendasaran yang tepat jika Gereja awali menjadikan hari pertama sesudah Sabat merupakan hari Tuhan (Dies Domini), hari yang dikuduskan, dan bukan hari sabat yang diagung-agungkan orang Yahudi. Sebab pada hari itu Tuhan bangkit. Dalam misteri Paskah umat manusia beserta alam semesta bersukaria karena merasakan karya penyelamatan Allah. Umat manusia memasuki kebebasan anak-anak Allah dan kemuliaan hidup ilahi bersama Kristus yang mulia.
2. Hari Tuhan: Hari Tuhan yang Bangkit dan Kurnia Roh Kudus
2.1. Hari Tuhan yang Bangkit
Hari Minggu dihormati sebagai hari Kebangkitan Tuhan. Oleh karena itu, Kebangkitan mulia Yesus Kristus tidak hanya dirayakan pada Hari Raya Paskah saja, tetapi juga pada setiap kali mulai minggu. Meskipun dalam tradisi, Hari Tuhan berakar dalam karya penciptaan dan bahkan dalam misteri “istirahat” Allah, namun Kebangkitan Kristuslah yang patut mendapat perhatian lebih untuk mengerti sepenuhnya Hari Tuhan. Sehingga di sini tampak bahwa peran hari minggu Kristiani, yakni menuntun umat beriman tiap minggu untuk merenungkan dan menghayati peristiwa Paskah yang menjadi sumber sejati bagi keselamatan dunia.
Sejak zaman Para Rasul, “hari pertama sesudah hari Sabat” yakni hari pertama minggu telah dirayakan sebagai hari Kebangkitan Tuhan. Sehingga perayaan pada hari pertama minggu tersebut membentuk irama hidup tersendiri bagi para murid Kristus (bdk. 1 Kor 16:2). Kitab Wahyu membuktikan praktek menyebut hari pertama “Hari Tuhan” (1:10). Hal ini akhirnya menjadi ciri khas yang membedakan umat Kristiani dari dunia di sekitar mereka, terlebih dari orang-orang Yahudi yang membanggakan hari Sabat. Pada abad-abad pertama, ditekankan hari Minggu sebagai hari Kebangkitan Kristus yang mampu mengungkapkan seluruh misteri Kristiani dalam segala kebaruannya. Inilah keunggulan hari Minggu dibandingkan dengan hari Sabat Yahudi.
2.2. Hari Kurnia Roh Kudus
Hari Minggu disebut juga hari cahaya atau juga hari “api” yang mengacu kepada Roh Kudus. Terang Kristus berhubungan erat dengan “api” Roh yang menampakan makna hari Minggu Kristiani. Hal ini tampak jelas ketika Yesus menampakkan Diri kepada para Rasul, Ia mengembusi mereka Roh Kusus untuk melepas dosa manusia (bdk. Yoh 20:22-23). Pencurahan Roh ialah anugerah agung Tuhan yang Bangkit kepada para murid pada hari Minggu Paskah dan juga pada Pentakosta. Peristiwa Pentakosta bukan hanya peritiwa berdirinya Gereja, tetapi terlebih memberi hidup kepada Gereja. Peristiwa Pentakosta berkaitan erat dengan Misteri Paskah dan menemukan arti mendalam tiap hari Minggu.
2.3. Hari iman
Berkat kekuatan Roh Kudus, pada hari Minggu penampakan Tuhan yang Bangkit terus diperbaharui bagi para murid Kristus. Umat beriman yang berhimpun dalam pertemuan hari Minggu diajak dan dipanggil untuk semakin percaya kepada Tuhan (bdk. Yoh 20:27). Sehingga boleh dikatakan bahwa hari Minggu adalah hari iman. Hal ini tampak jelas dalam perayaan liturgi Ekaristi yang menampilkan Syahadat Iman di dalamnya. Syahadat ini menyatakan ciri pembaptisan dan Paskah. Mereka yang dibaptis membarui sikap dalam mengikuti Kristus yang diungkapkan dengan pengulangan janji baptis mereka. Dengan mendengarkan sabda dan menerima Tubuh Tuhan, umat kristiani dapat mengalami dan mengakui penuh iman Kristus yang Bangkit dan yang hadir dalam “tanda-tanda kudus”.
2.3. Hari yang diperlukan
Hari Minggu begitu diperlukan oleh umat beriman hingga zaman sekarang. Mengingat bahwa hari Minggu Kristiani merupakan perayaan Hari Tuhan yang begitu kaya akan rahmat, maka sungguh dibutuhkan bagi jati diri Kritiani. Dan juga hari yang hendaknya dikuduskan itu berkaitan erat dengan dasar-dasar iman jemaat sendiri. Sehingga dianjurkan kepada umat beriman untuk menghayati dan mendalami jati diri hari itu dalam segala kedalamannya.
3. Hari Gereja: Jemaat Ekaristi: Jantung Hari Minggu
3.1. Kehadiran Tuhan yang Bangkit
Yesus berpesan kepada para muridNya bahwa Ia akan senantiasa menyertai mereka sampai akhir zaman (bdk. Mat 28:20). Janji Kristus terus berkumandang dalam Gereja sebagai sumber harapan umat beriman. Kehadiran Tuhan diwartakan dan dihayati pada hari Minggu, yakni perayaan kehadiran Tuhan yang Bangkit di tengah jemaat.
Dengan rahmat pembaptisan, jemaat tidak diselamatkan sebagai perorangan, tetapi selaku anggota-anggota Tubuh yang Mistik karena termasuk umat Allah. Di sini tampak kesatuan jemaat dalam Kristus yang ditebus dan dihimpun dari berbagai suku, bahasa dan bangsa, dan juga menunjukkan jati diri Gereja yang adalah satu. Kesatuan itu sungguh tampak bila umat Kristiani berhimpun.
3.2. Jemaat Ekaristi
Sejak zaman Para Rasul, jemaat awali yang dibaptis bertekun dalam pengajaran para Para Rasul dan dalam persekutuan. Dan mereka berhimpun untuk memecahkan roti atau merayakan Ekaristi dan berdoa (bdk. Kis 2:42). Di sini Ekaristi bukan hanya pengungkapan khas kenyataan hidup Gereja, tetapi juga Ekaristi sendiri merupakan santapan dan membentuk Gereja (bdk. 1 Kor 10:17). Dalam Ekaristi diwartakan dan dihayati secara mendalam sakramen Tubuh dan Darah Tuhan, yang merupakan dimensi yang intrinsik pada Ekaristi.
Pada hari Minggu umat Kristiani berkumpul untuk mengenangkan Kebangkitan Tuhan. Kita dapat melihat hubungan Ekaristi yang dirayakan jemaat pada hari Minggu dengan Kebangkitan atau penampakan Tuhan, yakni secara jelas digambarkan dalam peristiwa dua murid dari Emaus. Mereka mengenal Yesus yang telah bangkit ketika Ia mengambil roti, mengucap berkat, lalu memecah-mecahkannya dan memberikannya kepada mereka (lih. Luk 24:30).
Ekaristi adalah penampakan Gereja. Penampakan Gereja yang istimewa terdapat dalam keikutsertaaan penuh dan aktif seluruh umat Allah dalam perayaan Litugi, terutama Ekaristi. Umat yang berhimpun pada satu altar dipimpin oleh Uskup ataupun imam merayakan Ekaristi. Sehingga Gereja makin berkembang dalam kesatuan seluruh jemaat beriman dan Paus dan membukan diri bagi persekutuan dengan Gereja semesta.
3.3. Hari Gereja
Karena Penampilan Gereja yang istimewa ada pada kehadiran umat yang penuh dan aktif dalam perayaan Liturgi Gereja, maka dapat dikatakan bahwa hari Tuhan (dies Domini) adalah sekaligus hari Gereja (dies Ecclesiae). Sehingga dalam pastoral patut ditekankan aspek khas jemaat perayaan hari Minggu, seperti jiwa persekutuan jemaat dalam paroki yang terus berkembang dalam perayaan Misa Umat pada hari Minggu.
Kesatuan jemaat dalam perayaan Liturgi pada hari Minggu menandai secara mendalam Gereja sebagai umat yang dihimpun “oleh” dan “dalam” kesatuan Bapa, Putera dan Roh Kudus. Sehingga perayaan jemaat hari Minggu menjadi perayaan “sakramentum unitatis” (sakramen kesatuan). Sehingga hidup dan kesatuan jemaat paroki patut dijamin dan dimajukan sepenuhnya dengan pelayanan para imam yang dibutuhkan.
3.4. Hari Harapan
Hari minggu tidak hanya hari iman, tetapi juga hari harapan Kristiani. Partisipasi aktif dalam “perjamuan Tuhan” berarti mengantisipasi pesta zaman akhir “pernikahan Anak Domba” (lih. Why 19:9). Dengan merayakan kenangan akan Kristus, yang bangkit dan naik ke surga, umat beriman menantikan dalam harapan penuh kegembiraan kedatangan Sang Penyelamat, yakni Yesus Kristus.
3.5. Santapan Sabda dan Tubuh Kristus
Dalam perayaan ekaristi Tuhan yang Bangkit hadir dalam sabda dan Roti Hidup yang menjadi santapan rohani bagi jemaat. Santapan sabda berarti Yesus sendiri yang Bangkit hadir dalam sabdaNya. Sehingga umat beriman diajak untuk memelihara rasa lapar untuk mendengar Sabda Tuhan (lih. Ams 8:11). Dan lebih dari itu, umat beriman harus membangkitkan citarasa baru akan tanggung jawab terhadap sabda yang diwartakan. Oleh sebab itu, imam, para pelayan, dan umat beriman diharapkan untuk menyiapkan hati dengan merenungkan sebelumnya dan dengan semangat doa mau belajar pengetahuan atau penafsiran yang benar tentang Kitab Suci.
Sedangkan santapan Roti Hidup merupakan Kristus sendiri yang mengurbankan DiriNya kepada Bapa bagi kita lewat pengorbananNya di kayu salib. Kristus hadir secara nyata dalam rupa roti dan anggur yang merupakan Tubuh dan DarahNya. Ia hadir melalui kenangan Sengsara dan KebangkitanNya. Bagi umat beriman, Roti Hidup menjadi jaminan untuk kemuliaan yang akan datang.
3.6. Perjamuan paskah dan himpunan persaudaraan
Dalam Ekaristi, Kristus sendiri menjadi santapan. Dengan demikian partisipasi umat dalam perjamuan Tuhan tentu merupakan persekutuan dengan Kristus sendiri dan juga dengan saudara-saudara yang lain. Dengan perayaan Ekaristi, umat menyantap satu Tubuh, yakni Kristus, Roti Kehidupan. Dan perjamuan Komuni kudus ini sekaligus menunjukkan persekutuan umat beriman dalam Kristus. Sehingga umat beriman patut menyadari bahwa hari Minggu hendaknya menjadi pengalaman persaudaraan karena seluruh umat beriman disatukan oleh satu Tuhan dan menerima Roti Hidup yang sama, yakni Yesus Kristus.
3.7. Dari misa ke misi
Dengan menerima santapan rohani Roti Hidup, umat beriman sebenarnya menyiapkan diri untuk menunaikan tugas-tugas harian mereka. Dengan kekuatan Tuhan yang Bangkit beserta Rohnya, umat beriman dipanggil untuk mewartakan Injil dan memberi kesaksian dalam hidup mereka kepada sesama. Sehingga perayaan Ekaristi umat beriman tidak berhenti di Gereja saja tetapi memiliki diutus untuk berbagi kegembiraan perjumpaan dengan Tuhan bersama saudara-saudara mereka (bdk. Luk 24:33-35).
3.8. Saat-saat lain dalam hari minggu Kristiani
Hari Tuhan dihayati dengan penuh iman seharusnya bukan karena adanya kewajiban menguduskan hari Minggu, tetapi hendaknya umat beriman dari awal hingga akhir merayakan kenangan penuh syukur dan aktif akan karya penyelamatan Allah. Sehingga Ekaristi harus disiapkan dengan sungguh-sungguh, terutama sikap batin yang dapat dilakukan sebelum dan sesudah Ekaristi untuk menyiapkan atau melengkapi kurnia Ekaristi dalam hati umat beriman. Maka pada saat-saat lain baik sore atau Minggu siang dapat dilakukan perayaan Ibadat Sore bila memungkinkan sehingga damai dan kegembiraan akan Tuhan yang Bangkit sungguh masuk dalam kehidupan umat beriman.
Gereja berupaya membantu umat Kristiani agar dapat menguduskan Hari Tuhan sehingga berkenan pada Allah. Dengan anugerah Roh Kudus Gereja dengan teguh menjaga dan mempertahankan warisan ajaran iman yang benar. Sehingga Gereja tidak pernah kompromi dengan hal-hal yang terkadang meskipun positif untuk tidak merayakan Ekaristi pada hari Minggu. Malahan untuk menguduskan hari Tuhan, dalam tradisi kuno banyak umat melakukan ziarah-ziarah pada hari Minggu.
3.9. Jemaat-jemaat hari Minggu tanpa imam
Gereja memang mewajibkan umatnya untuk menguduskan hari Tuhan terutama dengan mengikuti Ekaristi pada hari Minggu bersama jemaat di paroki. Namun tidak dapat dipungkiri bahwa terkadang di beberapa paroki tidak mempunyai pelayanan imam pada hari Minggu. Kekurangan tenaga imam terkadang menjadi kendala utama. Namun Gereja tetap menganjurkan agar umat tetap berkumpul pada hari Minggu dan mengikuti perayaan liturgi bersama sesuai dengan aturan Gereja meskipun tanpa imam.
3.10. Radio dan Televisi
Gereja menyadari bahwa Ekaristi hari Minggu sungguh membuahkan kekayaan iman bagi umat Kristiani, sehingga diharapkan seluruh umat untuk mengalami hari Minggu sebagai “Hari Tuhan” dan “Hari Gereja”. Sehingga kewajiban hari Minggu mengandaikan partisipasi aktif tiap orang beriman dalam persaudaraan jemaat di satu tempat dimana mereka dapat merayakan Ekaristi dan menerima Komuni Kudus di situ. Namun jika suatu alasan yang serius seperti sakit, cacat, atau yang lain yang sungguh menjadi penghalang untuk ikutserta, maka diharapkan menyatukan diri dengan perayaan ekaristi pada hari Minggu dari jauh. Jika memungkinkan ada sarana radio dan televisi yang kiranya dapat membantu, juga lewat bacaan-bacaan dan doa-doa pada hari yang bersangkutan. Tentunya dalam hal ini pelayan umat atau asistensi akan mendampingi dan mengantarkan Komuni kepada umat tersebut.
4. Hari Manusia: Hari Minggu: Hari Kegembiraan, Istirahat dan Solidaritas
4.1. Hari Kegembiraan
Umat Kristiani merayakan hari minggu, Tuhan yang Bangkit terutama sebagai hari kegembiraan. Sejak awal para rasul Yesus melihat dan menyadari bahwa hari minggu sebagai gema mingguan perjumpaan pertama dengan Tuhan yang telah bangkit. Dan perjumpaan ini selalu ditandai dengan kegembiraan karena boleh melihat Tuhan (bdk. Yoh 20:20). Yesus sendiri mengharapkan para muridNya akan mempunyai “kepenuhan kegembiraanNya” (bdk. Yoh 17:13). Sehingga perayaan Ekaristi yang diungkapkan dengan penuh kegembiraan pada hari minggu merupakan karya Kristus sendiri yang menyalurkan rahmat sukacita kepada Gereja melalui kehadiran roh Kudus. Dan kita ketahui bahwa salah satu buah Roh Kudus adalah kegembiraan.
Kegembiraan Kristiani harus menandai seluruh hidup umat. Kita merayakan hari Tuhan yang Bangkit berarti juga merayakan karya penciptaan Allah dan “penciptaan baru”. Sehingga hari minggu sungguh merupakan hari yang istimewa. Namun kegembiraan kristiani bukan hanya semata perasaan puas yang dangkal, tetapi memiliki dasar yang mendalam dalam aspek hidup beriman. Dengan kata lain, kegembiraan manusiawi hendaknya menemukan landasan yang kokoh dalam kegembiraan Kristus yang dimuliakan. Sehingga hari minggu kristiani merupakan “waktu yang sesungguhnya untuk perayaan” yang dikaruniakan oleh Allah kepada umatNya demi perkembangan manusiawi dan rohani mereka yang sepenuhnya.
4.2. Hari Istirahat
Dalam Kitab Kejadian (bdk. 2:2-3) tampak bahwa istirahat merupakan sesuatu yang “sakral”. Siklus pergantian kerja dan istirahat yang terbentuk dalam kodrat manusiawi merupakan sesuatu yang dikehendaki oleh Allah sendiri. Sebab itu, umat beriman ada kalanya mengundurkan diri dari tugas-tugas manusiawi untuk sejenak merenungkan karya Allah dalam hidupnya. Sehingga hari Minggu menjadi kesempatan yang baik bagi umat beriman untuk membaktikan diri dalam doa bersama. Semua berhimpun sebagi jemaat Ekaristi yang mengungkapkan diri dalam perayaan dan pengudusan hari Tuhan.
4.3. Hari Solidaritas
Hari Minggu juga menjadi kesempatan bagi umat beriman untuk membuka dan membaktikan diri dalam karya amal, cinta kasih dan kerasulan. Kegembiraan hari Minggu karena boleh mengalami sukacita Tuhan yang Bangkit, harus tampak dalam seluruh hidup umat beriman. Sehingga Ekaristi hari Minggu tidak melepaskan umat beriman dari karya cinta kasih mereka, tetapi justru sebaliknya menjadi dorongan bagi mereka untuk berbuat kasih. Dengan demikian dalam seluruh hidup, umat Kristiani dapat menjadi terang dunia dan memuliakan Bapa di hadapan manusia.
5. Hari Minggu: Pesta Primodial: mewahyukan makna Waktu
5.1. Kristus Alfa dan Omega
Tuhan menciptakan dunia berada dalam dimensi waktu. Dan sejarah keselamatan Allah menemukan puncaknya dalam ‘kepenuhan waktu’ yakni penjelmaan Sang Sabda yang hadir dalam dimensi waktu sampai pada tujuannya dalam diri Putera Allah yang mulia pada akhir waktu. Sehingga dalam Yesus Kristus, waktu menjadi dimensi Allah yang bersifat kekal abadi. Hidup Kristus di dunia menjadi pusat waktu dan mencapai puncaknya dalam kebangkitan sebagai ‘kepenuhan waktu’.
5.2. Hari Minggu dalam Tahun Liturgi
Tradisi Gereja kuno telah secara berulang-ulang sekali seminggu merayakan misteri Paskah Kristus. Sehingga akhirnya kebiasaan atau perayaan yang diulang-ulang ini membentuk diri menjadi suatu lingkaran liturgi tahunan.
Konsili Vatikan II mengingatkan bahwa Gereja hendak memaparkan selama kurun waktu setahun seluruh misteri Kristus, dari penjelmaan serta kelahiran hingga kenaikanNya, sampai hari Pentakosta dan sampai penantian Kedatangan Tuhan yang bahagia dan penuh harapan. Umat beriman semakin terbuka akan kekayaan keutamaan serta rahmat yang hadir dengan cara tertentu. Umat dapat mendalami misteri Kristus dan dipenuhi dengan rahmat keselamatan. Umat beriman juga diajak untuk merenungkan misteri Kelahiran Tuhan yang juga menjadi perayaan yang paling meriah. Karena dalam peristiwa tersebut, umat beriman menyelami misteri Inkarnasi dan mengkontemplasikan Sabda Allah.
Dalam perayaan lingkaran tahunan misteri-misteri Kristus, Gereja juga menghormati Santa Maria Bunda Allah. Karena dengan jelas Bunda Maria tidak dapat dipisahkan atau terlibat dalam karya keselamatan Puteranya. Lingkaran tahunan juga disisipkan ke dalamnya kenangan para martir dan orang-orang kudus lainnya. Perayaan pesta orang-orang suci ini berada dalam sentralitas Kristus. Para kudus telah membuktikan kekuatan penebusan yang dijalankan oleh Yesus. Misteri Paskah ada dalam diri para kudus yang telah menderita dan dimuliakan bersama Kristus. Kemuliaan para kudus dan kemuliaan Kristus dibangun dalam penataan Tahun Liturgi itu sendiri, yang diungkapkan secara paling indah dan berdaulat hari Minggu sebagai hari Tuhan.
Hari Minggu terlaksana mengikuti musim-musim Tahun Liturgi. Sehingga seluruh musim tersebut tertata dengan indah dari awal hingga akhir. Di sini hari Minggu mucul sebagai pola alami untuk memahami dan merayakan hari-hari raya Tahun Liturgi tersebut, yang bernilai bagi hidup Kristiani. Sehingga benar bahwa Gereja mewajibkan umat beriman untuk menghadiri misa hari Minggu dan diharapkan umat beriman juga menghadiri Misa pada hari-hari raya penting lainnya, yang dirayakan dalam minggu.
Dalam pasoral perlu diperharikan juga situasi umat setempat berkaitan dengan tradisi-tradisi dan budaya daerah yang terkadang tidak selaras dengan semangat iman Kristiani yang sejati. Hal ini dapat mengganggu perayaan hari-hari Minggu dan hari-hari raya liturgis lainnya. Di sini para imam hendaknya lebih tegas dan bijaksana untuk menentukan nilai-nilai sejati dalam kebudayaan rakyat yang dapat dimasukkan dalam perayaan liturgi.
6. Penutup
Kewajiban menguduskan hari Tuhan lebih dari hanya dipandang sebagai sebuah perintah, tetapi harus dipandang sebagai kebutuhan yang muncul dari kedalaman hidup Kristiani. Karena warisan tradisi sungguh telah membuktikan keagungan dan kekayaan rohani serta patoral hari Minggu. Sehingga dalam penghayatan dan pelaksanaan diharapkan mengerti secara keseluruhan relevansi dan implikasi-implikasinya. Semua ini tentu tidak akan terjadi tanpa penghayatan dan keikutsertaan sepenuhnya dalam hidup jemaat Kristiani. Maka hendaklah umat beriman secara teratur ikut serta dalam perayaan Ekaristi bersama seluruh jemaat Gereja pada hari Minggu.
Di tengah dunia modern sekarang, berbagai tantangan yang muncul dalam upaya menguduskan hari Tuhan. Hal ini membuat umat kristiani terkadang terperosok dalam budaya masyarakat modern yang menggunakan hari minggu sebagai istirahat mingguan atau untuk senang-senang saja dengan berbagai tawaran hiburan duniawi. Dan juga kondisi-kondisi sosial yang semakin ditandai fragmentasi dan pluralisme agama, semua ini menjadi tantangan bagi kesetiaan umat Kristiani dalam menghidupi imannya di tengah dunia. Umat diajak untuk berada dalam persaudaraan dan persatuan teman-teman seiman dengan ikut serta berkumpul pada hari Minggu. Semua ini dapat menjadi bantuan yang sungguh diperlukan untuk mengadapi berbagai tantangan dunia sekarang.
Kesadaran hari minggu adalah hari Tuhan yang Bangkit akan membawa umat Kristiani pada kesaksian hidup dalam masyarakat. Dengan merayakan hari Tuhan sebenarnya mereka merayakan keselamatan mereka itu sendiri dan seluruh umat manusia. Di sini tampakan bahwa hari minggu menjadi jiwa hari-hari lainnya. Dan dengan bantun Roh Kudus yang tiada henti hadir dan menyelurkan kekayaan rahmat-rahmatNya, umat disatukan dengan Tuhan dan seluruh umat beriman. Roh Kudus juga memenuhi umat beriman dengan rahmat cinta kasih dan membaharui hidup mereka. Maka dengan demikian nilai hari Kudus dapat dimengerti dan dihayati semakin mendalam, sehingga pasti akan berimbas dan menghasilkan buah yang kaya dalam hidup jemaat Kristiani dan terlebih mengimbas pada seluruh hidup manusia.
Paus Yohanes Paulus II
Sabtu, 28 Februari 2009
Refleksi Pangilan 2
REFLEKSI HOM
Saya patut mengucapkan syukur kepada Tuhan, karena hanya rahmat dan cinta-Nya saya boleh melewati HOM (Hari Orang Miskin) selama masa pembinaan di Seminarium Internum. Saya boleh berjumpa dengan para pemulung setiap minggu dan dapat menjadi sahabat mereka. Semua terasa berlangsung begitu cepat. Kebersamaan dengan kaum miskin akhirnya menjadi sesuatu pengalaman yang menyenangkan, karena kehadiran saya diterima dengan baik. Saya ingin menjadi sahabat mereka dan mereka menerima niat baik saya. Apa yang saya alami bersama para pemulung memang terkadang terjadi atau berlangsung dengan baik, jauh lebih baik dari apa yang saya pikirkan dan rencanakan. Saya yakin bahwa semua merupakan pekerjaan dan rahmat dari Tuhan. Dan saya patut mensyukurinya. Apa yang saya kerjakan atau karya saya di tengah-tengah orang miskin tidak akan berlangsung dengan baik, jika saya hanya mengandalkan kekuatan diri saya sendiri. Tuhan-lah yang menyempurnakan seluruh pekerjaan saya.
HOM yang saya jalani lebih kurang satu tahun ini, menjadi pengalaman yang berharga dalam perjalanan panggilanku sebagai seorang pengikut Santo Vinsensius. Pengalaman perjumpaan dengan para pemulung membuat saya semakin dapat menyadari bahwa Allah sungguh-sungguh hadir dalam diri mereka. Lewat mereka, Allah juga mengingatkan sekaligus meneguhkan panggilan saya sebagai pengikut Kristus yang berpihak pada kaum miskin. Nilai-nilai injil yang saya peroleh dari kehidupan mereka, tentunya membuat saya semakin bertumbuh dalam hidup dan panggilan. Nilai-nilai luhur yang saya peroleh dalam setiap perjumpaan dengan mereka sungguh memberi warna indah dalam perjalan hidupku. Kehidupan para pemulung yang sederhana kiranya dapat menjadi teladan dalam hidup saya. ini adalah salah satu nilai yang membawa saya pada sebuah perkembangan hidup. Nilai-nilai hidup inilah yang diperjuangkan Santo Vinsensius dalam hidupnya, sehingga beliau terus berkembang dalam kepribadian, maupun dalam hidup rohani. Dari kesadaran bahwa nilai-nilai injil juga terdapat dalam kehidupan orang miskin inilah, akhirnya Santo Vinsensius menyampulkan bahwa orang miskin dapat menginjili hidup manusia lainnya.
Kegiatan HOM merupakan proses di mana saya dibentuk menjadi seorang misionaris yang mempunyai pribadi yang tangguh. Tidak dapat dipungkiri bahwa dalam karya kerasulan di tengah-tengah orang miskin, saya mendapat banyak tantangan atau cobaan. Pencobaan itu bisa datang dari luar atau pun dari dalam diri saya. Tantangan-tantangan perlahan-lahan membentuk atau membuat saya menjadi pribadi yang teguh dan tidak mudah menyerah. Tantangan dan cobaan tersebut tidak menjadi penghalang atau mengerdilkan semangat kerasulan. Tetapi malah sebaliknya, tantangan dan cobaan tersebut justru dapat membangkitkan semangat saya untuk terus bekerja melayani orang miskin dan dapat memurnikan panggilan saya sebagai seorang vinsensian. Oleh karena itu, tantangan dan cobaan dalam kegiatan HOM bukanlah alasan untuk menghentikan karya saya di tengah-tengah orang miskin. Tantangan itu tidak untuk dihindari, tetapi dihadapi dengan hati terbuka dan percaya pada penyelanggaraan Tuhan. Seperti Yesus yang setia pada Allah dalam pencobaan di padang gurun, saya juga harus tetap berpegang pada Allah dalam menghadapi setiap tantangan dan cobaan yang ditemukan dalam HOM. Dan saya juga dituntut untuk percaya dengan sepenuh hati pada karya dan penyelanggaraan Allah dalam hidup saya. Santo Vinsensius menunjukkan dalam hidupnya bahwa penyelanggaraan Ilahi telah menghantarnya pada pelayanan cinta kepada orang-orang miskin. Percaya akan karya Allah yang begitu mulia, Santo Vinsensius akhirnya memiliki komitmen yang teguh untuk membaktikan segenap hidupnya pada sebuah pelayanan yang mulia. Allah menjadi orientasi hidup dalam setiap karyanya, sehingga seperti Kristus, Santo Vinsensius dapat memenangkan setiap percobaan dan pergolakan hidup.
Santo Vinsensius membaktikan seluruh hidupnya untuk melayani orang-orang yang terlantar. Ia memberikan seluruh dirinya pada sebuah pengabdian yang total. Seluruh waktu dan tenaganya ia persembahkan pada sebuah pelayanan yang mulia. Semangat hendaknya saya tanamkan dalam diri saya, yakni semangat mencintai orang miskin secara total. Semangat cinta ini ditunjukkan dengan adanya sikap rela berkorban. Saya harus rela mengorbankan seluruh apa yang saya miliki untuk orang-orang yang saya cintai. Saya harus rela menyisihkan waktu dan tenaga saya pada sebuah pelayanan yang mulia. Ini merupakan bukti ketulusan cinta saya kepada orang-orang yang saya kunjungi. Oleh sebab itu, meskipun program kegiatan HOM telah berakhir di Seminarium Internum, bukan berarti bahwa saya berhenti mengunjungi orang-orang miskin. saya harus sadar bahwa cinta kepada orang miskin itu tidak pernah dibatasi oleh waktu dan tempat. Ketotalan cinta saya kepada kaum miskin harus saya tunjukkan dengan semangat memberikan diri saya kepada mereka. Karena itu, masa studi di STFT atau masa pembinaan di Seminari Langsep nanti, tidak dapat menjadi alasan bahwa saya berhenti mengunjungi orang miskin. Meskipun nanti saya nanti disibukkan oleh tugas-tugas dan studi, hendaknya saya menyempatkan untuk mengunjungi orang-orang miskin. masa studi tidak menjadi halangan untuk berjumpa dengan para pemulung, tetapi justru sebaliknya menjadi sebuah tantangan dan kesempatan bagi saya untuk mengikuti Kristus secara radikal dan menjadi murid yang setia.
Saya patut mengucapkan syukur kepada Tuhan, karena hanya rahmat dan cinta-Nya saya boleh melewati HOM (Hari Orang Miskin) selama masa pembinaan di Seminarium Internum. Saya boleh berjumpa dengan para pemulung setiap minggu dan dapat menjadi sahabat mereka. Semua terasa berlangsung begitu cepat. Kebersamaan dengan kaum miskin akhirnya menjadi sesuatu pengalaman yang menyenangkan, karena kehadiran saya diterima dengan baik. Saya ingin menjadi sahabat mereka dan mereka menerima niat baik saya. Apa yang saya alami bersama para pemulung memang terkadang terjadi atau berlangsung dengan baik, jauh lebih baik dari apa yang saya pikirkan dan rencanakan. Saya yakin bahwa semua merupakan pekerjaan dan rahmat dari Tuhan. Dan saya patut mensyukurinya. Apa yang saya kerjakan atau karya saya di tengah-tengah orang miskin tidak akan berlangsung dengan baik, jika saya hanya mengandalkan kekuatan diri saya sendiri. Tuhan-lah yang menyempurnakan seluruh pekerjaan saya.
HOM yang saya jalani lebih kurang satu tahun ini, menjadi pengalaman yang berharga dalam perjalanan panggilanku sebagai seorang pengikut Santo Vinsensius. Pengalaman perjumpaan dengan para pemulung membuat saya semakin dapat menyadari bahwa Allah sungguh-sungguh hadir dalam diri mereka. Lewat mereka, Allah juga mengingatkan sekaligus meneguhkan panggilan saya sebagai pengikut Kristus yang berpihak pada kaum miskin. Nilai-nilai injil yang saya peroleh dari kehidupan mereka, tentunya membuat saya semakin bertumbuh dalam hidup dan panggilan. Nilai-nilai luhur yang saya peroleh dalam setiap perjumpaan dengan mereka sungguh memberi warna indah dalam perjalan hidupku. Kehidupan para pemulung yang sederhana kiranya dapat menjadi teladan dalam hidup saya. ini adalah salah satu nilai yang membawa saya pada sebuah perkembangan hidup. Nilai-nilai hidup inilah yang diperjuangkan Santo Vinsensius dalam hidupnya, sehingga beliau terus berkembang dalam kepribadian, maupun dalam hidup rohani. Dari kesadaran bahwa nilai-nilai injil juga terdapat dalam kehidupan orang miskin inilah, akhirnya Santo Vinsensius menyampulkan bahwa orang miskin dapat menginjili hidup manusia lainnya.
Kegiatan HOM merupakan proses di mana saya dibentuk menjadi seorang misionaris yang mempunyai pribadi yang tangguh. Tidak dapat dipungkiri bahwa dalam karya kerasulan di tengah-tengah orang miskin, saya mendapat banyak tantangan atau cobaan. Pencobaan itu bisa datang dari luar atau pun dari dalam diri saya. Tantangan-tantangan perlahan-lahan membentuk atau membuat saya menjadi pribadi yang teguh dan tidak mudah menyerah. Tantangan dan cobaan tersebut tidak menjadi penghalang atau mengerdilkan semangat kerasulan. Tetapi malah sebaliknya, tantangan dan cobaan tersebut justru dapat membangkitkan semangat saya untuk terus bekerja melayani orang miskin dan dapat memurnikan panggilan saya sebagai seorang vinsensian. Oleh karena itu, tantangan dan cobaan dalam kegiatan HOM bukanlah alasan untuk menghentikan karya saya di tengah-tengah orang miskin. Tantangan itu tidak untuk dihindari, tetapi dihadapi dengan hati terbuka dan percaya pada penyelanggaraan Tuhan. Seperti Yesus yang setia pada Allah dalam pencobaan di padang gurun, saya juga harus tetap berpegang pada Allah dalam menghadapi setiap tantangan dan cobaan yang ditemukan dalam HOM. Dan saya juga dituntut untuk percaya dengan sepenuh hati pada karya dan penyelanggaraan Allah dalam hidup saya. Santo Vinsensius menunjukkan dalam hidupnya bahwa penyelanggaraan Ilahi telah menghantarnya pada pelayanan cinta kepada orang-orang miskin. Percaya akan karya Allah yang begitu mulia, Santo Vinsensius akhirnya memiliki komitmen yang teguh untuk membaktikan segenap hidupnya pada sebuah pelayanan yang mulia. Allah menjadi orientasi hidup dalam setiap karyanya, sehingga seperti Kristus, Santo Vinsensius dapat memenangkan setiap percobaan dan pergolakan hidup.
Santo Vinsensius membaktikan seluruh hidupnya untuk melayani orang-orang yang terlantar. Ia memberikan seluruh dirinya pada sebuah pengabdian yang total. Seluruh waktu dan tenaganya ia persembahkan pada sebuah pelayanan yang mulia. Semangat hendaknya saya tanamkan dalam diri saya, yakni semangat mencintai orang miskin secara total. Semangat cinta ini ditunjukkan dengan adanya sikap rela berkorban. Saya harus rela mengorbankan seluruh apa yang saya miliki untuk orang-orang yang saya cintai. Saya harus rela menyisihkan waktu dan tenaga saya pada sebuah pelayanan yang mulia. Ini merupakan bukti ketulusan cinta saya kepada orang-orang yang saya kunjungi. Oleh sebab itu, meskipun program kegiatan HOM telah berakhir di Seminarium Internum, bukan berarti bahwa saya berhenti mengunjungi orang-orang miskin. saya harus sadar bahwa cinta kepada orang miskin itu tidak pernah dibatasi oleh waktu dan tempat. Ketotalan cinta saya kepada kaum miskin harus saya tunjukkan dengan semangat memberikan diri saya kepada mereka. Karena itu, masa studi di STFT atau masa pembinaan di Seminari Langsep nanti, tidak dapat menjadi alasan bahwa saya berhenti mengunjungi orang miskin. Meskipun nanti saya nanti disibukkan oleh tugas-tugas dan studi, hendaknya saya menyempatkan untuk mengunjungi orang-orang miskin. masa studi tidak menjadi halangan untuk berjumpa dengan para pemulung, tetapi justru sebaliknya menjadi sebuah tantangan dan kesempatan bagi saya untuk mengikuti Kristus secara radikal dan menjadi murid yang setia.
Puisi 2

Puisi Natal 2007
HARGA PENANTIANKU
Aku diam namun pikiranku melayang
Menerawang batas-batas waktu dan ruang
Mengejar jejak-jejak yang tak berbekas
Menerobos bayang-bayang yang tak jelas
Kujelajahi waktu yang tak berujung
Dalam kedamaian aku merenung
Mengusai dunia dan fenomena hidup
Terus berdetak dan tiada yang meredup
Air mataku jatuh seiring isak tangis Sang Bayi
Meneteskan penyesalan tercuat di hati
Aku sadar aku berada dalam penantian
Bersandar pada cinta dan harapan
Aku tidak lagi melihat waktu
Berapa lama aku menunggu
Seberapa letihnya aku ragaku
Seberapa besar perjuanganku
Kupersembahkan semua di tengah kerumunan domba
Kepada Dia yang berbaring tak berdaya
Kupersembahkan kelemahanku bersama para gembala
Yang sedang terjaga menyambut-Nya
Dalam Dia…
Mimpi-mimpi indahku menjadi kenyataan
Dalam Dia...
Harapan menjadi sebuah kepastian
Dalam Dia…
Penantianku bukanlah kesia-siaan
Aku diam namun pikiranku melayang
Menerawang batas-batas waktu dan ruang
Mengejar jejak-jejak yang tak berbekas
Menerobos bayang-bayang yang tak jelas
Kujelajahi waktu yang tak berujung
Dalam kedamaian aku merenung
Mengusai dunia dan fenomena hidup
Terus berdetak dan tiada yang meredup
Air mataku jatuh seiring isak tangis Sang Bayi
Meneteskan penyesalan tercuat di hati
Aku sadar aku berada dalam penantian
Bersandar pada cinta dan harapan
Aku tidak lagi melihat waktu
Berapa lama aku menunggu
Seberapa letihnya aku ragaku
Seberapa besar perjuanganku
Kupersembahkan semua di tengah kerumunan domba
Kepada Dia yang berbaring tak berdaya
Kupersembahkan kelemahanku bersama para gembala
Yang sedang terjaga menyambut-Nya
Dalam Dia…
Mimpi-mimpi indahku menjadi kenyataan
Dalam Dia...
Harapan menjadi sebuah kepastian
Dalam Dia…
Penantianku bukanlah kesia-siaan
Puisi 1
Puisi ini kupersembahkan kepada orang-orang yang sempat mewarnai hidupku!DIA MANUSIA
Dia bukan mimpi
Dia juga bukan pajangan dunia
Dia manusia yang tetap berdiri tegak
Menanti hari silih berganti
Becak tua bukanlah jawaban
Mengayuh roda bukan impian
Lara menyelimuti badan
Kepenatan melilit menjadi beban
Malam berselimutkan keletihan
Siang berzirahkan kesengsaraan
Pedih merasuk jiwa
Di dalam hati yang masih terluka
Ia termenung bagaikan lesung
Disapa matahari ia tak mengerti
Ia menderita, ia sengsara
Tetapi ia tidak berteriak seperti burung gagak
Ia hanya diam namun tidak padam
Dia hidup, dia manusia
Punya hati, budi, dan cinta
Dia bukan mimpi
Dia juga bukan pajangan dunia
Dia manusia yang tetap berdiri tegak
Menanti hari silih berganti
Becak tua bukanlah jawaban
Mengayuh roda bukan impian
Lara menyelimuti badan
Kepenatan melilit menjadi beban
Malam berselimutkan keletihan
Siang berzirahkan kesengsaraan
Pedih merasuk jiwa
Di dalam hati yang masih terluka
Ia termenung bagaikan lesung
Disapa matahari ia tak mengerti
Ia menderita, ia sengsara
Tetapi ia tidak berteriak seperti burung gagak
Ia hanya diam namun tidak padam
Dia hidup, dia manusia
Punya hati, budi, dan cinta
Refleksi Pangilan 1
API KRISTUS TELAH MENYALA!
Api Kristus telah menyala! Inilah kata-kata yang saya dan teman-teman lantunkan dalam sebuah lagu yang sangat meriah. Lagu ini berkumandang seiring kobaran api unggun yang menjadi pusat lingkaran kami. Di atas api unggun itu sebelumnya telah diletakkan setumpuk kertas berwarna putih yang bertuliskan harapan-harapan kami. Harapan tulus yang tentunya keluar dari refleksi terhadap situasi komunitas yang diharapkan. Kertas-kertas itu hilang bersama kobaran api yang kian membara. Kobaran api yang melambang kobaran semangat, kira terus hidup dalam diri kami dalam mewujudkan sebuah komunitas yang harmonis. Semangat yang membakar dalam diri kami tentunya bukan hanya sekedar semangat atusiasme, tetapi kami hendaknya mengobarkan api Kristus. Semangat Kristus kiranya terus hidup dalam proses membangun komunitas yang lebih baik.
Berada di Bromo tentunya sangat menyenangkan. Mendengar nama Bromo saja, saya langsung memikirkan suasana dan pemandangan yang indah, sehingga Bromo sangat identik dengan wisata dan rekreasi. Sungguh merupakan sebuah kebahagiaan besar bisa berada di tempat baru yang sungguh indah. Suasana yang menarik dan menyenangkan akan menberi kesan tersendiri bagi saya yang mengalaminya. Pengalaman ini tentunya akan menjadi kisah hidup yang terus membekas dalam perjalanan hidup saya. Keindahan Gunung Bromo patut memang patut saya kagumi, karena keindahan fisiknya sungguh menarik perhatian saya. Namun saya datang ke sana mempunyai tujuan yang telah menjadi kesepakatan bersama. Keindahan Bromo hendaknya tidak justru menjadi penghalang tujuan tersebuat. Salah satu contoh konkrit, seperti mengulur waktu memulai kegiatan bersama, hanya karena bersenang-senang menikmati alam. Terkadang keindahan membuat saya terlarut dan melupakan yang lain, tetapi harus diingat bahwa keindahan tempat yang baru tidak boleh mangaburkan tujuan saya datang ke sana. Keindahan itu harusnya menjadi sarana atau faktor pendukung dalam mewujudkan tujuan tersebut.
Keberadaan saya di Bromo bersama teman-teman bukan hanya untuk bersenang-senang. Keberangkatan dari Malang adalah keberangkatan yang membawa tujuan yang telah disepakati bersama. Tentunya tujuan inilah yang akan menjadi patokan seluruh kegiatan di sana. Tujuan ini menjadi nilai-nilai luhur yang hendak digapai dan diperjuangkan bersama.
Bagi saya sendiri, keberadaan saya di sana tentunya juga tidak hanya membawa tubuh dan mengalir bersama kegiatan-kegiatan yang berlangsung di sana saja, tetapi saya juga punya tujuan atau harapan “pribadi” yang hendak saya capai. Tujuan ini tentunya tidak menghambat tujuan yang telah disepakati bersama. Tujuan saja cukup sederhana, yaitu saya ingin mengalami Tuhan di tempat yang baru. Saya ingin punya sebuah pengalaman personal merasakan cinta dan kehadiran Tuhan. Ia menyapa lewat keagungan ciptaan-Nya. Saya berusaha membuka hati saya akan kehadiran Tuhan selama berada di tempat yang baru yang memungkin saya dapat bertemu dengan-Nya. Saya dihadapkan pada keagungan alam, yang menjadi tanda kebesaran Yang Punya, Pencipta. Setiap pagi saya dapat melihat matahari terbit, gunung-gunung yang menjulang tinggi, dan panorama lainnya yang membuat hati saya merasa tentram, damai, dan tenang. Saya dapat mengalami Allah yang sungguh menyapa saya lewat alam ciptaan-Nya.
Ketika saya berada di puncak gunung, saya dapat melihat pada jangkauan yang cukup luas. Saya dapat melihat daratan bumi yang terhampar luas. Saya mulai menyadari bahwa betapa kecilnya saya. Saya hanya segelintir atau mungkin serpihan kecil dari ciptaan Tuhan yang begitu luas dan agung. Namun meskipun saya hanya serpihan kecil dari seluruh ciptaan Tuhan, namun Tuhan sungguh mencintai saya.Ini merupakan rahmat yang cinta yang sungguh melimpah dalam hidup saya, yang patut saya sadari dan syukuri setiap saat.
Banyak hal yang dapat saya alami di Bromo. Semuanya itu memberikan kesan yang mendalam dalam perjalanan hidup saya. Saya mulai menyadari kelemahan saya, saya terkadang masih kurang peduli atau kurang aktif dengan kegiatan yang ditentukan bersama. Namun. Apa yang menjadi harapan bersama selama berada di sana, kiranya dapat memotivasi saya untuk melibatkan diri secara aktif dalam mengikuti seluruh kegiatan yang telah disepakati bersama itu. Ada hal menarik yang membuat saya merasa bahwa kegiatan sungguh memberi kesan yang mendalam bagi saya dan komunitas, yaitu bahwa keterlibatan teman-teman dalam seluruh kegiatan ternyata membuat suasana begitu nyaman. Keaktifan teman-teman membuat saya juga bersemangat dalam mengikuti kegiatan di sana. Keterlibatan dari masing-masing anggota komunitas inilah yang tentunya akan membawa komunitas pada perkembangan yang lebih maksimal. Keterlibatan ini tentunya menyangkut bagaimana saya melibatkan keseluruhan diri saya dalam sebuah kegiatan. Keterlibatan atau keaktifan akan menghindari saya pada sikap mengandal dan tergantung pada teman.
Harapan untuk mewujudkan sebuah komunitas yang ideal, nyaman, tentunya merupakan sebuah proses yang panjang yang menuntut kerjasama dan perjuangan bersama. Jadi dari tiap pribadi dituntut rasa memiliki komunitas dan juga kesadaran akan panggilan yang diperjuangkan dalam kebersamaan. Hal ini bukan berarti bahwa panggilan saya menjadi tanggung jawab orang lain, tetapi merupakan kesadaran bahwa perkembangan panggilan kita tidak lepas dari kehidupan bersama dalam satu komunitas.
Saya merasa bahwa pengalaman indah dapat menjadi api kecil yang membakar semangat saya untuk terus berkembang dalam panggilan. Pengalaman ini tentunya juga menjadi momen indah yang terus mengingatkan saya saat indah dalam kebersamaan. Apalagi ketika saya merasa sendirian atau merasa bimbang, pengalaman indah di Bromo mejadi kenangan yang terus hidup, bagaikan ‘kobaran api Kristus’ yang membakar semangat saya untuk terus melangkah dalam panggilan.
Api Kristus telah menyala! Inilah kata-kata yang saya dan teman-teman lantunkan dalam sebuah lagu yang sangat meriah. Lagu ini berkumandang seiring kobaran api unggun yang menjadi pusat lingkaran kami. Di atas api unggun itu sebelumnya telah diletakkan setumpuk kertas berwarna putih yang bertuliskan harapan-harapan kami. Harapan tulus yang tentunya keluar dari refleksi terhadap situasi komunitas yang diharapkan. Kertas-kertas itu hilang bersama kobaran api yang kian membara. Kobaran api yang melambang kobaran semangat, kira terus hidup dalam diri kami dalam mewujudkan sebuah komunitas yang harmonis. Semangat yang membakar dalam diri kami tentunya bukan hanya sekedar semangat atusiasme, tetapi kami hendaknya mengobarkan api Kristus. Semangat Kristus kiranya terus hidup dalam proses membangun komunitas yang lebih baik.
Berada di Bromo tentunya sangat menyenangkan. Mendengar nama Bromo saja, saya langsung memikirkan suasana dan pemandangan yang indah, sehingga Bromo sangat identik dengan wisata dan rekreasi. Sungguh merupakan sebuah kebahagiaan besar bisa berada di tempat baru yang sungguh indah. Suasana yang menarik dan menyenangkan akan menberi kesan tersendiri bagi saya yang mengalaminya. Pengalaman ini tentunya akan menjadi kisah hidup yang terus membekas dalam perjalanan hidup saya. Keindahan Gunung Bromo patut memang patut saya kagumi, karena keindahan fisiknya sungguh menarik perhatian saya. Namun saya datang ke sana mempunyai tujuan yang telah menjadi kesepakatan bersama. Keindahan Bromo hendaknya tidak justru menjadi penghalang tujuan tersebuat. Salah satu contoh konkrit, seperti mengulur waktu memulai kegiatan bersama, hanya karena bersenang-senang menikmati alam. Terkadang keindahan membuat saya terlarut dan melupakan yang lain, tetapi harus diingat bahwa keindahan tempat yang baru tidak boleh mangaburkan tujuan saya datang ke sana. Keindahan itu harusnya menjadi sarana atau faktor pendukung dalam mewujudkan tujuan tersebut.
Keberadaan saya di Bromo bersama teman-teman bukan hanya untuk bersenang-senang. Keberangkatan dari Malang adalah keberangkatan yang membawa tujuan yang telah disepakati bersama. Tentunya tujuan inilah yang akan menjadi patokan seluruh kegiatan di sana. Tujuan ini menjadi nilai-nilai luhur yang hendak digapai dan diperjuangkan bersama.
Bagi saya sendiri, keberadaan saya di sana tentunya juga tidak hanya membawa tubuh dan mengalir bersama kegiatan-kegiatan yang berlangsung di sana saja, tetapi saya juga punya tujuan atau harapan “pribadi” yang hendak saya capai. Tujuan ini tentunya tidak menghambat tujuan yang telah disepakati bersama. Tujuan saja cukup sederhana, yaitu saya ingin mengalami Tuhan di tempat yang baru. Saya ingin punya sebuah pengalaman personal merasakan cinta dan kehadiran Tuhan. Ia menyapa lewat keagungan ciptaan-Nya. Saya berusaha membuka hati saya akan kehadiran Tuhan selama berada di tempat yang baru yang memungkin saya dapat bertemu dengan-Nya. Saya dihadapkan pada keagungan alam, yang menjadi tanda kebesaran Yang Punya, Pencipta. Setiap pagi saya dapat melihat matahari terbit, gunung-gunung yang menjulang tinggi, dan panorama lainnya yang membuat hati saya merasa tentram, damai, dan tenang. Saya dapat mengalami Allah yang sungguh menyapa saya lewat alam ciptaan-Nya.
Ketika saya berada di puncak gunung, saya dapat melihat pada jangkauan yang cukup luas. Saya dapat melihat daratan bumi yang terhampar luas. Saya mulai menyadari bahwa betapa kecilnya saya. Saya hanya segelintir atau mungkin serpihan kecil dari ciptaan Tuhan yang begitu luas dan agung. Namun meskipun saya hanya serpihan kecil dari seluruh ciptaan Tuhan, namun Tuhan sungguh mencintai saya.Ini merupakan rahmat yang cinta yang sungguh melimpah dalam hidup saya, yang patut saya sadari dan syukuri setiap saat.
Banyak hal yang dapat saya alami di Bromo. Semuanya itu memberikan kesan yang mendalam dalam perjalanan hidup saya. Saya mulai menyadari kelemahan saya, saya terkadang masih kurang peduli atau kurang aktif dengan kegiatan yang ditentukan bersama. Namun. Apa yang menjadi harapan bersama selama berada di sana, kiranya dapat memotivasi saya untuk melibatkan diri secara aktif dalam mengikuti seluruh kegiatan yang telah disepakati bersama itu. Ada hal menarik yang membuat saya merasa bahwa kegiatan sungguh memberi kesan yang mendalam bagi saya dan komunitas, yaitu bahwa keterlibatan teman-teman dalam seluruh kegiatan ternyata membuat suasana begitu nyaman. Keaktifan teman-teman membuat saya juga bersemangat dalam mengikuti kegiatan di sana. Keterlibatan dari masing-masing anggota komunitas inilah yang tentunya akan membawa komunitas pada perkembangan yang lebih maksimal. Keterlibatan ini tentunya menyangkut bagaimana saya melibatkan keseluruhan diri saya dalam sebuah kegiatan. Keterlibatan atau keaktifan akan menghindari saya pada sikap mengandal dan tergantung pada teman.
Harapan untuk mewujudkan sebuah komunitas yang ideal, nyaman, tentunya merupakan sebuah proses yang panjang yang menuntut kerjasama dan perjuangan bersama. Jadi dari tiap pribadi dituntut rasa memiliki komunitas dan juga kesadaran akan panggilan yang diperjuangkan dalam kebersamaan. Hal ini bukan berarti bahwa panggilan saya menjadi tanggung jawab orang lain, tetapi merupakan kesadaran bahwa perkembangan panggilan kita tidak lepas dari kehidupan bersama dalam satu komunitas.
Saya merasa bahwa pengalaman indah dapat menjadi api kecil yang membakar semangat saya untuk terus berkembang dalam panggilan. Pengalaman ini tentunya juga menjadi momen indah yang terus mengingatkan saya saat indah dalam kebersamaan. Apalagi ketika saya merasa sendirian atau merasa bimbang, pengalaman indah di Bromo mejadi kenangan yang terus hidup, bagaikan ‘kobaran api Kristus’ yang membakar semangat saya untuk terus melangkah dalam panggilan.
Refleksi
Liburan Seminarium Internum di Bromo
teodorusneo@yahoo.com
Langganan:
Postingan (Atom)