Selasa, 19 Januari 2010

Refleksi Immersi 2009

Sebelum imersi, saya sempat khawatir kalau-kalau nantinya tidak mendapat pekerjaan. Di tengah keadaan yang serba susah, orang tentunya akan mengalami kesulitan dalam mencari dan mendapat pekerjaan. Ditambah lagi, batas waktu imersi yang hanya satu minggu dan imersi ini adalah yang pertama kali.
Kekhawatiran ini akhirnya mulai meredup ketika saya berpasangan dengan Fr. Gusti yang ternyata sudah mendapat pekerjaan. Kebetulan dia memiliki kenalan, seorang tukang parkir di Pasar Besar yang menawarkannya pekerjaan, yakni membantu para pekerja sampah di sana. Saya pun menerima pekerjaan tersebut. Walau saya sadar pekerjaan itu cukup berat, namun saya merasa ini menjadi kesempatan bagi saya untuk mengalami dengan sungguh bekerja di tempat yang tidak mengenakkan.
Perjalanan saya dan Fr. Gusti dalam mencari dan menemukan pekerjaan ternyata berlangsung alot. Ketika kami mau memasuki hari kerja, ternyata kami tidak langsung bekerja. Kami diminta untuk melapor terlebih dahulu kepada Dinas Kebersihan Pasar Besar. Kami berdua akhirnya menuruti permintaan tersebut. Namun semua tidak berjalan dengan mulus. Kami juga diminta untuk melapor ke Kepala Dinas Kebersihan Kota Madya untuk meminta rekomendasi dari sana. Karena keinginan yang besar untuk bekerja, kami pun mengikuti prosedur tersebut. Kami berangkat dan melapor ke kantor wali kota. Hanya sayang sekali, setelah melalui proses yang panjang apa yang kami perjuangan tersebut berakhir dengan penolakan. Kami tidak memperoleh rekomendasi yang menjadi syarat untuk bekerja di dinas kebersihan Pasar Besar.
Pengalaman ditolak tidak membuat kami putus asa. Saya dan Fr Gusti akhirnya memutuskan untuk menemui Bu Sarsudi di Tanjug Putra Yudha II. Ketika masih di Seminarium Internum, Fr. Gusti bersama beberapa frater pernah meminta bantuannya untuk mencari lowongan pekerjaan. Kami mendatanginya dan menanyakan informasi mengenai lowongan pekerjaan. Kami ditawarkan untuk bekerja di “HR“ Jaya, yakni usaha pengisian dan pemasaran air keras. Setelah bertemu dengan Pak Suherman, pemilik usaha tersebut, kami akhirnya diterima untuk bekerja di sana.

Syukur atas Pengalaman Imersi
Pengalaman imersi ini membuat saya semakin sadar akan keluhuran panggilan yang telah Tuhan anugerahkan. Imersi menjadi kesempatan bagi saya untuk menggali lebih jauh panggilan sebagai seorang vinsesian. Saya bukan hanya sekedar diajak untuk merasakan bagaimana hidup orang-orang di luar, tetapi mau menggali nilai-nilai hidup yang berguna bagi perjalan panggilan saya nanti. Lewat imersi, saya perlahan-lahan mulai diajak untuk memahami apa yang menjadi persoalan dan keresahan yang dihadapi oleh orang yang bekerja. Dan saya mulai merasakan tingginya nilai suatu pekerjaan bagi para pekerja. Suatu pekerjaan menjadi tulang punggung bagi kelangsungan hidup para pekerjaan. Dari pekerjaan tersebut, mereka membiayai berbagai kebutuhan keluarga mereka. Sehingga mereka akan berusaha semaksimal mungkin untuk mempertahankan pekerjaan tersebut. Dan hasil pekerjaan itu akan mereka atur dan gunakan dengan sebaik-baiknya.
Hidup di seminari tentunya sedikit berbeda dengan orang-orang yang bekerja. Keresahan soal kebutuhan hidup seperti makan, pakaian dan lain-lainnya tentu tidak dialami oleh para frater. Para frater dapat makan makanan yang enak tanpa harus bekerja keras. Sehingga saya patut bersyukur karena pengalaman imersi membantu saya untuk mencicipi sedikit pengalaman orang-orang yang bekerja. Paling tidak selama imersi saya mulai mengatur penggunaan yang uang untuk makan. Bila saya ingin makan enak, saya harus memikirkan persediaan uang saya untuk makan hari-hari berikutnya. Dan saya bersyukur dapat merasakan bagaimana seluruh hari saya hanya dihabiskan di tempat kerja.

Persembahan Seorang Janda Miskin
Saya merasa bahagia karena pada kesempatan imersi ini, saya boleh berjumpa dengan seorang janda tua. Ia dikenal dengan nama Bu Bambang. Ia adalah seorang kristiani yang hidup sebatang kara dalam sebuah rumah yang ukurannya tidak lebih dari luas dapur seminari Langsep. Kebetulan tempat saya kerja berada di belakang rumah Bu Bambang. Sehingga hari-hari imersi yang banyak dihabiskan di tempat kerja tentunya lebih banyak juga memberi waktu untuk berjumpa dengan Bu Bambang.
Perjumpaan dengan Bu Bambang begitu istimewa, karena perjumpaan tersebut menyadarkan saya akan panggilan sebagai seorang utusan Tuhan, yakni untuk mencintai semua orang. Mencintai sesama merupakan ungkapan cinta kita kepada Tuhan sendiri. Bu Bambang mekipun berada dalam kekurangan, ia tetap memberikan yang terbaik dari dirinya. Ia selalu memasakan makanan bagi kami dan juga pekerja lainnya.Ia tidak pernah mengeluh, bahkan merasa bahagia bila dapat memberikan yang terbaik dari dirinya bagi orang lain. Ini merupakan ungkapan cinta Bu Bambang kepada Tuhan sendiri, yakni dengan mempersembahkan apa yang terbaik dari dirinya. Ia melayani dengan tulus hati tanpa menuntut balas.
Saya teringat dengan kisah seorang janda miskin yang dibenarkan oleh Jesus karena mempersembahkan dengan tulus hati apa yang ada padanya meskipun sedikit (lih. Mrk 12: 42-44). Sebanyak apapun persembahan kita kepada Tuhan tentunya tidak ada bandingnya dengan belaskasih yang telah Tuhan berikan kepada kita. Sehingga apa yang dapat berikan kepada Tuhan tentunya bukan perkara ukuran atau jumlah besar kecilnya, tetapi soal ketulusan hati kita memberi. Sungguhkah persembahan tersebut sudah mengungkapkan persembahan seluruh hidup kita kepada Tuhan.

Getaran Kebaikan
Segala kebaikan yang telah dilakukan pasti akan membuahkan juga sesuatu yang baik. Tidak dapat dipungkiri bahwa dalam melakukan kebaikan berbagai tantangan akan dihadapi. Namun kebiakan bagaikan suara halus yang bergetar dan mengusik hati setiap orang yang merasakannya. Getaran kebaikan tersebut menarik dan memikat hati setiap orang. Kiranya inilah yang patut saya katakan untuk mengukapkan pengalaman perjumpaan dengan Bu Bambang.
Ketika saya dan Fr. Gusti bekerja, Bu Bambang begitu perhatian dan bahkan memperlakukan kami seperti anaknya sendiri. Saya sendiri awalnya merasa agak sungkan diperlakukan begitu baik, sehingga kerapkali saya mengingatkannya untuk tidak terlalu merepotkan diri. Namun ketika saya melihat kegembiraan dan ketulusan hatinya dalam melakukan semuanya itu, saya perlahan-lahan mulai mengerti bahwa kebaikan itu semua sungguh mengalir dari dalam dan merupakan nilai hidup yang sudah menjadi bagian dirinya. Hal inilah yang selalu mengusik diri saya untuk lebih jauh melihat siapakah diri saya selama ini. Sugguhkah kebaikan-kebaikan yang saya lakukan selama ini mengalirkan dari dalam diri saya dan sudah menjadi bagian dari hidup yang selalu diperjuangkan. Seperti Bu Bambang meskipun dalam kekurangan tetap memberikan yang terbaik kepada orang lain. Ini menunjukkan bahwa kebaikan hendaknya selalu diperjuangkan kapan saja dan dimana saja.
Sehari sebelum waktu kerja kami selesai, saya sempat terkejut dan kaget ketika Fr. Gusti mangungkapkan bahwa Bu Bambang ternyata memiliki utang. Fr. Gusti awalnya juga tidak mengira kalau Bu Bambang mempunyai utang. Dan Bu Bambang tidak pernah mengungkapkan kesulitan dan beban utang yang ia tanggung. Hal ini diketahui Fr. Gusti ketika di sela waktu luang ia menemui Bu Bambang dan bercengkerama bersamanya. Ketika asyik ngobrol tiba-tiba ada seseorang yang meminta tagihan pinjaman. Kemudian Fr Gusti menceritakan pengalamanya itu kepada saya. Saya sempat bingung harus berbuat apa ketika bertemu dengan Bu Bambang. Apakah saya pura-pura tidak tahu masalah itu dan diam saja. Saya tentunya merasa sangat tidak enak ketika Bu Bambang memasakan kami makanan yang enak, semantara ia sendiri harus bekerja keras untuk melunasi utangnya. Akhrinya saya dan Fr Gusti memutuskan untuk memberikan semua uang lelah kami kepada Bu Bambang. Kami meminta Pak Suherman, bos kami untuk memberikannya kepadanya.
Saya pribadi melihat bahwa perbuat baik yang dilakukan Bu Bambang seperti getaran yang menggetarkan hati saya untuk melakukan kebaikan juga. Tentunya kebaikan ini dibedakan dengan balas budi. Balas budi mengibaratkan kebaikan itu akan berhenti ketika utang budi sudah dibalas. Getaran kebaikan membangkitkan gelora dari dalam hati setiap orang yang mengalaminya untuk selalu bergerak dan bertindak. Sehingga di sini saya dengan penuh keyakinan bahwa tidak ada perbuatan baik yang sia-sia. Seperti menyemai benih, kebaikan akan tumbuh dan menghasilkan buah berlimpah. Jadi janganlah jemu-jemu berbuat baik, karena pasti akan berbuah limpah dalam kehidupan (lih. Galatia 6: 9).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar