REFLEKSI HOM
Saya patut mengucapkan syukur kepada Tuhan, karena hanya rahmat dan cinta-Nya saya boleh melewati HOM (Hari Orang Miskin) selama masa pembinaan di Seminarium Internum. Saya boleh berjumpa dengan para pemulung setiap minggu dan dapat menjadi sahabat mereka. Semua terasa berlangsung begitu cepat. Kebersamaan dengan kaum miskin akhirnya menjadi sesuatu pengalaman yang menyenangkan, karena kehadiran saya diterima dengan baik. Saya ingin menjadi sahabat mereka dan mereka menerima niat baik saya. Apa yang saya alami bersama para pemulung memang terkadang terjadi atau berlangsung dengan baik, jauh lebih baik dari apa yang saya pikirkan dan rencanakan. Saya yakin bahwa semua merupakan pekerjaan dan rahmat dari Tuhan. Dan saya patut mensyukurinya. Apa yang saya kerjakan atau karya saya di tengah-tengah orang miskin tidak akan berlangsung dengan baik, jika saya hanya mengandalkan kekuatan diri saya sendiri. Tuhan-lah yang menyempurnakan seluruh pekerjaan saya.
HOM yang saya jalani lebih kurang satu tahun ini, menjadi pengalaman yang berharga dalam perjalanan panggilanku sebagai seorang pengikut Santo Vinsensius. Pengalaman perjumpaan dengan para pemulung membuat saya semakin dapat menyadari bahwa Allah sungguh-sungguh hadir dalam diri mereka. Lewat mereka, Allah juga mengingatkan sekaligus meneguhkan panggilan saya sebagai pengikut Kristus yang berpihak pada kaum miskin. Nilai-nilai injil yang saya peroleh dari kehidupan mereka, tentunya membuat saya semakin bertumbuh dalam hidup dan panggilan. Nilai-nilai luhur yang saya peroleh dalam setiap perjumpaan dengan mereka sungguh memberi warna indah dalam perjalan hidupku. Kehidupan para pemulung yang sederhana kiranya dapat menjadi teladan dalam hidup saya. ini adalah salah satu nilai yang membawa saya pada sebuah perkembangan hidup. Nilai-nilai hidup inilah yang diperjuangkan Santo Vinsensius dalam hidupnya, sehingga beliau terus berkembang dalam kepribadian, maupun dalam hidup rohani. Dari kesadaran bahwa nilai-nilai injil juga terdapat dalam kehidupan orang miskin inilah, akhirnya Santo Vinsensius menyampulkan bahwa orang miskin dapat menginjili hidup manusia lainnya.
Kegiatan HOM merupakan proses di mana saya dibentuk menjadi seorang misionaris yang mempunyai pribadi yang tangguh. Tidak dapat dipungkiri bahwa dalam karya kerasulan di tengah-tengah orang miskin, saya mendapat banyak tantangan atau cobaan. Pencobaan itu bisa datang dari luar atau pun dari dalam diri saya. Tantangan-tantangan perlahan-lahan membentuk atau membuat saya menjadi pribadi yang teguh dan tidak mudah menyerah. Tantangan dan cobaan tersebut tidak menjadi penghalang atau mengerdilkan semangat kerasulan. Tetapi malah sebaliknya, tantangan dan cobaan tersebut justru dapat membangkitkan semangat saya untuk terus bekerja melayani orang miskin dan dapat memurnikan panggilan saya sebagai seorang vinsensian. Oleh karena itu, tantangan dan cobaan dalam kegiatan HOM bukanlah alasan untuk menghentikan karya saya di tengah-tengah orang miskin. Tantangan itu tidak untuk dihindari, tetapi dihadapi dengan hati terbuka dan percaya pada penyelanggaraan Tuhan. Seperti Yesus yang setia pada Allah dalam pencobaan di padang gurun, saya juga harus tetap berpegang pada Allah dalam menghadapi setiap tantangan dan cobaan yang ditemukan dalam HOM. Dan saya juga dituntut untuk percaya dengan sepenuh hati pada karya dan penyelanggaraan Allah dalam hidup saya. Santo Vinsensius menunjukkan dalam hidupnya bahwa penyelanggaraan Ilahi telah menghantarnya pada pelayanan cinta kepada orang-orang miskin. Percaya akan karya Allah yang begitu mulia, Santo Vinsensius akhirnya memiliki komitmen yang teguh untuk membaktikan segenap hidupnya pada sebuah pelayanan yang mulia. Allah menjadi orientasi hidup dalam setiap karyanya, sehingga seperti Kristus, Santo Vinsensius dapat memenangkan setiap percobaan dan pergolakan hidup.
Santo Vinsensius membaktikan seluruh hidupnya untuk melayani orang-orang yang terlantar. Ia memberikan seluruh dirinya pada sebuah pengabdian yang total. Seluruh waktu dan tenaganya ia persembahkan pada sebuah pelayanan yang mulia. Semangat hendaknya saya tanamkan dalam diri saya, yakni semangat mencintai orang miskin secara total. Semangat cinta ini ditunjukkan dengan adanya sikap rela berkorban. Saya harus rela mengorbankan seluruh apa yang saya miliki untuk orang-orang yang saya cintai. Saya harus rela menyisihkan waktu dan tenaga saya pada sebuah pelayanan yang mulia. Ini merupakan bukti ketulusan cinta saya kepada orang-orang yang saya kunjungi. Oleh sebab itu, meskipun program kegiatan HOM telah berakhir di Seminarium Internum, bukan berarti bahwa saya berhenti mengunjungi orang-orang miskin. saya harus sadar bahwa cinta kepada orang miskin itu tidak pernah dibatasi oleh waktu dan tempat. Ketotalan cinta saya kepada kaum miskin harus saya tunjukkan dengan semangat memberikan diri saya kepada mereka. Karena itu, masa studi di STFT atau masa pembinaan di Seminari Langsep nanti, tidak dapat menjadi alasan bahwa saya berhenti mengunjungi orang miskin. Meskipun nanti saya nanti disibukkan oleh tugas-tugas dan studi, hendaknya saya menyempatkan untuk mengunjungi orang-orang miskin. masa studi tidak menjadi halangan untuk berjumpa dengan para pemulung, tetapi justru sebaliknya menjadi sebuah tantangan dan kesempatan bagi saya untuk mengikuti Kristus secara radikal dan menjadi murid yang setia.
Saya patut mengucapkan syukur kepada Tuhan, karena hanya rahmat dan cinta-Nya saya boleh melewati HOM (Hari Orang Miskin) selama masa pembinaan di Seminarium Internum. Saya boleh berjumpa dengan para pemulung setiap minggu dan dapat menjadi sahabat mereka. Semua terasa berlangsung begitu cepat. Kebersamaan dengan kaum miskin akhirnya menjadi sesuatu pengalaman yang menyenangkan, karena kehadiran saya diterima dengan baik. Saya ingin menjadi sahabat mereka dan mereka menerima niat baik saya. Apa yang saya alami bersama para pemulung memang terkadang terjadi atau berlangsung dengan baik, jauh lebih baik dari apa yang saya pikirkan dan rencanakan. Saya yakin bahwa semua merupakan pekerjaan dan rahmat dari Tuhan. Dan saya patut mensyukurinya. Apa yang saya kerjakan atau karya saya di tengah-tengah orang miskin tidak akan berlangsung dengan baik, jika saya hanya mengandalkan kekuatan diri saya sendiri. Tuhan-lah yang menyempurnakan seluruh pekerjaan saya.
HOM yang saya jalani lebih kurang satu tahun ini, menjadi pengalaman yang berharga dalam perjalanan panggilanku sebagai seorang pengikut Santo Vinsensius. Pengalaman perjumpaan dengan para pemulung membuat saya semakin dapat menyadari bahwa Allah sungguh-sungguh hadir dalam diri mereka. Lewat mereka, Allah juga mengingatkan sekaligus meneguhkan panggilan saya sebagai pengikut Kristus yang berpihak pada kaum miskin. Nilai-nilai injil yang saya peroleh dari kehidupan mereka, tentunya membuat saya semakin bertumbuh dalam hidup dan panggilan. Nilai-nilai luhur yang saya peroleh dalam setiap perjumpaan dengan mereka sungguh memberi warna indah dalam perjalan hidupku. Kehidupan para pemulung yang sederhana kiranya dapat menjadi teladan dalam hidup saya. ini adalah salah satu nilai yang membawa saya pada sebuah perkembangan hidup. Nilai-nilai hidup inilah yang diperjuangkan Santo Vinsensius dalam hidupnya, sehingga beliau terus berkembang dalam kepribadian, maupun dalam hidup rohani. Dari kesadaran bahwa nilai-nilai injil juga terdapat dalam kehidupan orang miskin inilah, akhirnya Santo Vinsensius menyampulkan bahwa orang miskin dapat menginjili hidup manusia lainnya.
Kegiatan HOM merupakan proses di mana saya dibentuk menjadi seorang misionaris yang mempunyai pribadi yang tangguh. Tidak dapat dipungkiri bahwa dalam karya kerasulan di tengah-tengah orang miskin, saya mendapat banyak tantangan atau cobaan. Pencobaan itu bisa datang dari luar atau pun dari dalam diri saya. Tantangan-tantangan perlahan-lahan membentuk atau membuat saya menjadi pribadi yang teguh dan tidak mudah menyerah. Tantangan dan cobaan tersebut tidak menjadi penghalang atau mengerdilkan semangat kerasulan. Tetapi malah sebaliknya, tantangan dan cobaan tersebut justru dapat membangkitkan semangat saya untuk terus bekerja melayani orang miskin dan dapat memurnikan panggilan saya sebagai seorang vinsensian. Oleh karena itu, tantangan dan cobaan dalam kegiatan HOM bukanlah alasan untuk menghentikan karya saya di tengah-tengah orang miskin. Tantangan itu tidak untuk dihindari, tetapi dihadapi dengan hati terbuka dan percaya pada penyelanggaraan Tuhan. Seperti Yesus yang setia pada Allah dalam pencobaan di padang gurun, saya juga harus tetap berpegang pada Allah dalam menghadapi setiap tantangan dan cobaan yang ditemukan dalam HOM. Dan saya juga dituntut untuk percaya dengan sepenuh hati pada karya dan penyelanggaraan Allah dalam hidup saya. Santo Vinsensius menunjukkan dalam hidupnya bahwa penyelanggaraan Ilahi telah menghantarnya pada pelayanan cinta kepada orang-orang miskin. Percaya akan karya Allah yang begitu mulia, Santo Vinsensius akhirnya memiliki komitmen yang teguh untuk membaktikan segenap hidupnya pada sebuah pelayanan yang mulia. Allah menjadi orientasi hidup dalam setiap karyanya, sehingga seperti Kristus, Santo Vinsensius dapat memenangkan setiap percobaan dan pergolakan hidup.
Santo Vinsensius membaktikan seluruh hidupnya untuk melayani orang-orang yang terlantar. Ia memberikan seluruh dirinya pada sebuah pengabdian yang total. Seluruh waktu dan tenaganya ia persembahkan pada sebuah pelayanan yang mulia. Semangat hendaknya saya tanamkan dalam diri saya, yakni semangat mencintai orang miskin secara total. Semangat cinta ini ditunjukkan dengan adanya sikap rela berkorban. Saya harus rela mengorbankan seluruh apa yang saya miliki untuk orang-orang yang saya cintai. Saya harus rela menyisihkan waktu dan tenaga saya pada sebuah pelayanan yang mulia. Ini merupakan bukti ketulusan cinta saya kepada orang-orang yang saya kunjungi. Oleh sebab itu, meskipun program kegiatan HOM telah berakhir di Seminarium Internum, bukan berarti bahwa saya berhenti mengunjungi orang-orang miskin. saya harus sadar bahwa cinta kepada orang miskin itu tidak pernah dibatasi oleh waktu dan tempat. Ketotalan cinta saya kepada kaum miskin harus saya tunjukkan dengan semangat memberikan diri saya kepada mereka. Karena itu, masa studi di STFT atau masa pembinaan di Seminari Langsep nanti, tidak dapat menjadi alasan bahwa saya berhenti mengunjungi orang miskin. Meskipun nanti saya nanti disibukkan oleh tugas-tugas dan studi, hendaknya saya menyempatkan untuk mengunjungi orang-orang miskin. masa studi tidak menjadi halangan untuk berjumpa dengan para pemulung, tetapi justru sebaliknya menjadi sebuah tantangan dan kesempatan bagi saya untuk mengikuti Kristus secara radikal dan menjadi murid yang setia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar