API KRISTUS TELAH MENYALA!
Api Kristus telah menyala! Inilah kata-kata yang saya dan teman-teman lantunkan dalam sebuah lagu yang sangat meriah. Lagu ini berkumandang seiring kobaran api unggun yang menjadi pusat lingkaran kami. Di atas api unggun itu sebelumnya telah diletakkan setumpuk kertas berwarna putih yang bertuliskan harapan-harapan kami. Harapan tulus yang tentunya keluar dari refleksi terhadap situasi komunitas yang diharapkan. Kertas-kertas itu hilang bersama kobaran api yang kian membara. Kobaran api yang melambang kobaran semangat, kira terus hidup dalam diri kami dalam mewujudkan sebuah komunitas yang harmonis. Semangat yang membakar dalam diri kami tentunya bukan hanya sekedar semangat atusiasme, tetapi kami hendaknya mengobarkan api Kristus. Semangat Kristus kiranya terus hidup dalam proses membangun komunitas yang lebih baik.
Berada di Bromo tentunya sangat menyenangkan. Mendengar nama Bromo saja, saya langsung memikirkan suasana dan pemandangan yang indah, sehingga Bromo sangat identik dengan wisata dan rekreasi. Sungguh merupakan sebuah kebahagiaan besar bisa berada di tempat baru yang sungguh indah. Suasana yang menarik dan menyenangkan akan menberi kesan tersendiri bagi saya yang mengalaminya. Pengalaman ini tentunya akan menjadi kisah hidup yang terus membekas dalam perjalanan hidup saya. Keindahan Gunung Bromo patut memang patut saya kagumi, karena keindahan fisiknya sungguh menarik perhatian saya. Namun saya datang ke sana mempunyai tujuan yang telah menjadi kesepakatan bersama. Keindahan Bromo hendaknya tidak justru menjadi penghalang tujuan tersebuat. Salah satu contoh konkrit, seperti mengulur waktu memulai kegiatan bersama, hanya karena bersenang-senang menikmati alam. Terkadang keindahan membuat saya terlarut dan melupakan yang lain, tetapi harus diingat bahwa keindahan tempat yang baru tidak boleh mangaburkan tujuan saya datang ke sana. Keindahan itu harusnya menjadi sarana atau faktor pendukung dalam mewujudkan tujuan tersebut.
Keberadaan saya di Bromo bersama teman-teman bukan hanya untuk bersenang-senang. Keberangkatan dari Malang adalah keberangkatan yang membawa tujuan yang telah disepakati bersama. Tentunya tujuan inilah yang akan menjadi patokan seluruh kegiatan di sana. Tujuan ini menjadi nilai-nilai luhur yang hendak digapai dan diperjuangkan bersama.
Bagi saya sendiri, keberadaan saya di sana tentunya juga tidak hanya membawa tubuh dan mengalir bersama kegiatan-kegiatan yang berlangsung di sana saja, tetapi saya juga punya tujuan atau harapan “pribadi” yang hendak saya capai. Tujuan ini tentunya tidak menghambat tujuan yang telah disepakati bersama. Tujuan saja cukup sederhana, yaitu saya ingin mengalami Tuhan di tempat yang baru. Saya ingin punya sebuah pengalaman personal merasakan cinta dan kehadiran Tuhan. Ia menyapa lewat keagungan ciptaan-Nya. Saya berusaha membuka hati saya akan kehadiran Tuhan selama berada di tempat yang baru yang memungkin saya dapat bertemu dengan-Nya. Saya dihadapkan pada keagungan alam, yang menjadi tanda kebesaran Yang Punya, Pencipta. Setiap pagi saya dapat melihat matahari terbit, gunung-gunung yang menjulang tinggi, dan panorama lainnya yang membuat hati saya merasa tentram, damai, dan tenang. Saya dapat mengalami Allah yang sungguh menyapa saya lewat alam ciptaan-Nya.
Ketika saya berada di puncak gunung, saya dapat melihat pada jangkauan yang cukup luas. Saya dapat melihat daratan bumi yang terhampar luas. Saya mulai menyadari bahwa betapa kecilnya saya. Saya hanya segelintir atau mungkin serpihan kecil dari ciptaan Tuhan yang begitu luas dan agung. Namun meskipun saya hanya serpihan kecil dari seluruh ciptaan Tuhan, namun Tuhan sungguh mencintai saya.Ini merupakan rahmat yang cinta yang sungguh melimpah dalam hidup saya, yang patut saya sadari dan syukuri setiap saat.
Banyak hal yang dapat saya alami di Bromo. Semuanya itu memberikan kesan yang mendalam dalam perjalanan hidup saya. Saya mulai menyadari kelemahan saya, saya terkadang masih kurang peduli atau kurang aktif dengan kegiatan yang ditentukan bersama. Namun. Apa yang menjadi harapan bersama selama berada di sana, kiranya dapat memotivasi saya untuk melibatkan diri secara aktif dalam mengikuti seluruh kegiatan yang telah disepakati bersama itu. Ada hal menarik yang membuat saya merasa bahwa kegiatan sungguh memberi kesan yang mendalam bagi saya dan komunitas, yaitu bahwa keterlibatan teman-teman dalam seluruh kegiatan ternyata membuat suasana begitu nyaman. Keaktifan teman-teman membuat saya juga bersemangat dalam mengikuti kegiatan di sana. Keterlibatan dari masing-masing anggota komunitas inilah yang tentunya akan membawa komunitas pada perkembangan yang lebih maksimal. Keterlibatan ini tentunya menyangkut bagaimana saya melibatkan keseluruhan diri saya dalam sebuah kegiatan. Keterlibatan atau keaktifan akan menghindari saya pada sikap mengandal dan tergantung pada teman.
Harapan untuk mewujudkan sebuah komunitas yang ideal, nyaman, tentunya merupakan sebuah proses yang panjang yang menuntut kerjasama dan perjuangan bersama. Jadi dari tiap pribadi dituntut rasa memiliki komunitas dan juga kesadaran akan panggilan yang diperjuangkan dalam kebersamaan. Hal ini bukan berarti bahwa panggilan saya menjadi tanggung jawab orang lain, tetapi merupakan kesadaran bahwa perkembangan panggilan kita tidak lepas dari kehidupan bersama dalam satu komunitas.
Saya merasa bahwa pengalaman indah dapat menjadi api kecil yang membakar semangat saya untuk terus berkembang dalam panggilan. Pengalaman ini tentunya juga menjadi momen indah yang terus mengingatkan saya saat indah dalam kebersamaan. Apalagi ketika saya merasa sendirian atau merasa bimbang, pengalaman indah di Bromo mejadi kenangan yang terus hidup, bagaikan ‘kobaran api Kristus’ yang membakar semangat saya untuk terus melangkah dalam panggilan.
Api Kristus telah menyala! Inilah kata-kata yang saya dan teman-teman lantunkan dalam sebuah lagu yang sangat meriah. Lagu ini berkumandang seiring kobaran api unggun yang menjadi pusat lingkaran kami. Di atas api unggun itu sebelumnya telah diletakkan setumpuk kertas berwarna putih yang bertuliskan harapan-harapan kami. Harapan tulus yang tentunya keluar dari refleksi terhadap situasi komunitas yang diharapkan. Kertas-kertas itu hilang bersama kobaran api yang kian membara. Kobaran api yang melambang kobaran semangat, kira terus hidup dalam diri kami dalam mewujudkan sebuah komunitas yang harmonis. Semangat yang membakar dalam diri kami tentunya bukan hanya sekedar semangat atusiasme, tetapi kami hendaknya mengobarkan api Kristus. Semangat Kristus kiranya terus hidup dalam proses membangun komunitas yang lebih baik.
Berada di Bromo tentunya sangat menyenangkan. Mendengar nama Bromo saja, saya langsung memikirkan suasana dan pemandangan yang indah, sehingga Bromo sangat identik dengan wisata dan rekreasi. Sungguh merupakan sebuah kebahagiaan besar bisa berada di tempat baru yang sungguh indah. Suasana yang menarik dan menyenangkan akan menberi kesan tersendiri bagi saya yang mengalaminya. Pengalaman ini tentunya akan menjadi kisah hidup yang terus membekas dalam perjalanan hidup saya. Keindahan Gunung Bromo patut memang patut saya kagumi, karena keindahan fisiknya sungguh menarik perhatian saya. Namun saya datang ke sana mempunyai tujuan yang telah menjadi kesepakatan bersama. Keindahan Bromo hendaknya tidak justru menjadi penghalang tujuan tersebuat. Salah satu contoh konkrit, seperti mengulur waktu memulai kegiatan bersama, hanya karena bersenang-senang menikmati alam. Terkadang keindahan membuat saya terlarut dan melupakan yang lain, tetapi harus diingat bahwa keindahan tempat yang baru tidak boleh mangaburkan tujuan saya datang ke sana. Keindahan itu harusnya menjadi sarana atau faktor pendukung dalam mewujudkan tujuan tersebut.
Keberadaan saya di Bromo bersama teman-teman bukan hanya untuk bersenang-senang. Keberangkatan dari Malang adalah keberangkatan yang membawa tujuan yang telah disepakati bersama. Tentunya tujuan inilah yang akan menjadi patokan seluruh kegiatan di sana. Tujuan ini menjadi nilai-nilai luhur yang hendak digapai dan diperjuangkan bersama.
Bagi saya sendiri, keberadaan saya di sana tentunya juga tidak hanya membawa tubuh dan mengalir bersama kegiatan-kegiatan yang berlangsung di sana saja, tetapi saya juga punya tujuan atau harapan “pribadi” yang hendak saya capai. Tujuan ini tentunya tidak menghambat tujuan yang telah disepakati bersama. Tujuan saja cukup sederhana, yaitu saya ingin mengalami Tuhan di tempat yang baru. Saya ingin punya sebuah pengalaman personal merasakan cinta dan kehadiran Tuhan. Ia menyapa lewat keagungan ciptaan-Nya. Saya berusaha membuka hati saya akan kehadiran Tuhan selama berada di tempat yang baru yang memungkin saya dapat bertemu dengan-Nya. Saya dihadapkan pada keagungan alam, yang menjadi tanda kebesaran Yang Punya, Pencipta. Setiap pagi saya dapat melihat matahari terbit, gunung-gunung yang menjulang tinggi, dan panorama lainnya yang membuat hati saya merasa tentram, damai, dan tenang. Saya dapat mengalami Allah yang sungguh menyapa saya lewat alam ciptaan-Nya.
Ketika saya berada di puncak gunung, saya dapat melihat pada jangkauan yang cukup luas. Saya dapat melihat daratan bumi yang terhampar luas. Saya mulai menyadari bahwa betapa kecilnya saya. Saya hanya segelintir atau mungkin serpihan kecil dari ciptaan Tuhan yang begitu luas dan agung. Namun meskipun saya hanya serpihan kecil dari seluruh ciptaan Tuhan, namun Tuhan sungguh mencintai saya.Ini merupakan rahmat yang cinta yang sungguh melimpah dalam hidup saya, yang patut saya sadari dan syukuri setiap saat.
Banyak hal yang dapat saya alami di Bromo. Semuanya itu memberikan kesan yang mendalam dalam perjalanan hidup saya. Saya mulai menyadari kelemahan saya, saya terkadang masih kurang peduli atau kurang aktif dengan kegiatan yang ditentukan bersama. Namun. Apa yang menjadi harapan bersama selama berada di sana, kiranya dapat memotivasi saya untuk melibatkan diri secara aktif dalam mengikuti seluruh kegiatan yang telah disepakati bersama itu. Ada hal menarik yang membuat saya merasa bahwa kegiatan sungguh memberi kesan yang mendalam bagi saya dan komunitas, yaitu bahwa keterlibatan teman-teman dalam seluruh kegiatan ternyata membuat suasana begitu nyaman. Keaktifan teman-teman membuat saya juga bersemangat dalam mengikuti kegiatan di sana. Keterlibatan dari masing-masing anggota komunitas inilah yang tentunya akan membawa komunitas pada perkembangan yang lebih maksimal. Keterlibatan ini tentunya menyangkut bagaimana saya melibatkan keseluruhan diri saya dalam sebuah kegiatan. Keterlibatan atau keaktifan akan menghindari saya pada sikap mengandal dan tergantung pada teman.
Harapan untuk mewujudkan sebuah komunitas yang ideal, nyaman, tentunya merupakan sebuah proses yang panjang yang menuntut kerjasama dan perjuangan bersama. Jadi dari tiap pribadi dituntut rasa memiliki komunitas dan juga kesadaran akan panggilan yang diperjuangkan dalam kebersamaan. Hal ini bukan berarti bahwa panggilan saya menjadi tanggung jawab orang lain, tetapi merupakan kesadaran bahwa perkembangan panggilan kita tidak lepas dari kehidupan bersama dalam satu komunitas.
Saya merasa bahwa pengalaman indah dapat menjadi api kecil yang membakar semangat saya untuk terus berkembang dalam panggilan. Pengalaman ini tentunya juga menjadi momen indah yang terus mengingatkan saya saat indah dalam kebersamaan. Apalagi ketika saya merasa sendirian atau merasa bimbang, pengalaman indah di Bromo mejadi kenangan yang terus hidup, bagaikan ‘kobaran api Kristus’ yang membakar semangat saya untuk terus melangkah dalam panggilan.
Refleksi
Liburan Seminarium Internum di Bromo
teodorusneo@yahoo.com
Tidak ada komentar:
Posting Komentar